Translate

Jumat, 24 November 2017

Pertemuan Berikut - Babak Kedua

Akhirnya terlintas juga di benak untuk melanjutkan kisah tentang si Bung yang diceritakan pada bagian pertama. Terakhir kali tulisan di Babak Pertama adalah tentang awal bagaimana cintaku digantung.

Benar demikian, komunikasi yang mulai saya bangun bersamanya terus berlanjut bahkan sudah jauh lebih intens. Meskipun terkadang dia menghilang berhari-hari bahkan berminggu-mingggu. Kami memang tidak pernah memiliki kesepakatan untuk membangun sebuah hubungan, tapi kami saling mengungkapkan rasa cinta kami. Komunikasi kami yang berjalan rasa-rasanya sudah seperti orang yang berpacaran.

Pertemuan kedua kami pun terjadi. Waktu itu aku ke kota tempatku berkuliah dulu untuk mengurus beberapa berkas. Aku menyempatkan diri untuk mampir ke kotanya sepulang pengurusan dari kota tujuanku. Kebetulan karena ada adikku juga yang berkuliah di kotanya, sehingga aku bisa sekalian berjumpa dengannya. Pertemuan kedua ini bukanlah seperti pertemuan pertama saat kami bertemu di kota tempat kami melaksanakan kegiatan rohani waktu itu. Pertemuan kali ini berbeda, karena kami sudah saling panggil sayang dan memiliki hubungan jarak jauh yang begitu intens.

Sesampainya aku di sana, rasa deg deg an ku mulai muncul tak karuan. Yah, aku mungkin benar-benar jatuh cinta. Pertemuan kedua kami pun terjadi. Dia mendatangi tempat tinggal adikku, rasanya aku begitu malu, begitu kaku. Benar-benar memalukan. Ahh.. kasmaran. Kami banyak bercerita saat itu, lebih tepatnya dia yang banyak bercerita karena aku selalu tidak mempunyai bahan untuk memulai sebuah percakapan. Kami bertemu beberapa kali saat aku di sana. Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari, tidak cukup lima kali pertemuan. Selain bercerita tentang hal-hal lucu dan hal-hal lainnya, aku juga sempat diajak makan di luar dalam beberapa pertemuan dengannya. Saat diboncengi tak lupa dia memintaku untuk selalu memeluknya dan tidak melepaskan pelukan itu. Wajahku rasanya benar-benar memerah saat itu. Kalian tahu? Aku benar-benar bahagia diperlakukan demikian. Aku sudah lupa akan segala hal. Bahkan aku tidak sempat berpikir bahwa mungkin bukan hanya aku saja yang diperlakukan demikian. Cinta memang benar-benar buta, sangat buta.

Pertemuan terakhir saat itu benar-benar memilukan. Karena hujan yang begitu deras, malam yang semakin larut. Padahal keesokkan paginya aku akan segera kembali pulang ke kotaku. Aku pikir dia tak akan datang. Ternyata salah, dia tetap datang. Malam sekali waktu itu, menabrak cuaca yang buruk diantar oleh kakaknya. Katanya selarut apapun dia pasti akan datang untuk melihatku. Lihatlah bagaimana dia begitu manis memperlakukanku, wanita mana yang tidak jatuh hati. Aku bukan hanya sekedar jatuh hati, tapi aku tenggelam.


Komunikasi kami tetap berjalan dengan baik meskipun aku telah kembali pulang ke kotaku. Tetap intens dalam jarak jauh. Lalu sekali lagi aku berkunjung ke kotanya dan kami kembali bertemu. Pertemuan kali ini benar-benar hangat, karena kami telah memupuk rindu selama berhubungan jarak jauh. Rasa rindu yang begitu dalam kami tumpahkan melalui pertemuan berikut ini. Aku benar-benar sangat merindukannya. Sebelum pertemuan ini, dia sudah jujur akan adanya hubungan bersama orang lain lagi selain denganku. Oleh sebab itu aku merencanakan kedatanganku yang berikut ini karena cinta yang sudah aku punya dan untuk mengenalnya jauh lebih dekat lagi. Aku tidak sedang berusaha merusak hubungannya dengan orang lain tersebut, tapi karena hubungan mereka sama dasarnya denganku yaitu tanpa pernyataan sedang berpacaran, maka aku merasa memiliki posisi yang sama dengan wanita itu, dan karena lelaki ini memberikanku peluang, mengapa aku harus menyerah? Lagi pula hubungannya dengan wanita lain itu adalah hubungan yang sulit untuk direstui oleh keluarga mereka, karena ada alasan tertentu yang tidak bisa aku tulis di sini. Dan.. aku begitu mudah percaya. Sebenarnya apa yang dikatakan olehnya adalah suatu kebenaran, tapi sayangnya itu belum semua. Ada banyak hal yang masih dia sembunyikan.

Aku berusaha tetap dekat dan tetap memiliki hubungan yang intens dengannya. Sebagaimana usahaku untuk kembali berkunjung ke kotanya. Tapi dipertemuan ini kami hanya sekali bertemu, tidak seperti saat pertama aku berkunjung ke kotanya, dia tidak sempat datang melihatku sebelum aku berangkat kembali ke kotaku. Walaupun demikian komunikasi kami tetap berjalan, meskipun sudah mulai ada kemarahan di dalamnya, saat di kotaku, aku mulai berpikir untuk pindah kerja ke kotanya. Sebenarnya ini bukan hanya sekedar agar aku dekat dengannya. Ini memang impianku. Impian untuk bekerja di ibukota provinsi sejak dulu, dan itu adalah kota tempat tinggalnya. Hal itupun terwujud, aku berhasil pindah. Menunggu sekitaran dua bulan lalu dipanggil dan bekerja, aku benar-benar senang. Apalagi tempat kerja ini merupakan impianku sejak dulu. Pertemuanku dengannya baru sekali semenjak aku pindah ke kotanya. Itupun setelah satu bulan aku menunggunya. Aku mulai merasa bahwa hubungan kami sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan. Awalnya dia begitu rajin mengontakku saat tahu aku sedang datang ke kotanya. Tapi hanya sebatas itu. Yang sekalipun, mungkin dia juga datang dengan terpaksa atau hanya kebetulan. Kami bertemu, dan aku melihat ada begitu banyak hal yang dia sembunyikan dariku. Semakin banyak aku rasa. Dari tingkahnya, dari matanya, kehadirannya pun tidak membuatku merasa seperti dulu. Ketika aku ingin menyerah, dia seperti terus ingin maju. Dan ketika aku ingin maju, dia seperti ingin menyerah.

Tapi tahukah kalian? Lelaki inilah yang masih aku cintai sampai dengan saat ini. Karena sekarang dia adalah teman hidupku. Mengapa dia bisa menjadi teman hidupku padahal hubungan kami begitu rumit? Jawabannya hanya satu, atas kehendak-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar