Jangan buta karena cinta. Kamu mungkin membenci banyak orang hanya karena cinta yang membutakanmu. Hingga yang salah kamu benarkan, dan yang tak tahu apa-apa kamu persalahkan.
Hidup menjadi lebih mudah ketika kita merasa bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak kita sukai di dunia ini. Kalau saya diberikan pilihan, saya juga bisa berbalik memusuhimu. Tapi saya tidak ingin mengacaukan hidup saya hanya karena membenci orang yang membenci saya. Tugas saya hanya sebatas mengasihimu, walaupun sampai dengan saat ini kamu masih menganggap saya perusak.
Ingat orang berpendidikan, informasi yang baik hanya benar-benar real jika kamu tidak hanya mendengar dari satu pihak, apalagi pihak yang kamu dengarkan adalah yang kamu cinta. Karena cinta itu buta, kamu mungkin juga bodoh. Karena jika memang dia baik, dia tidak akan membiarkan semua terjadi seperti sekarang ini. Nah, sekarang siapa yang brengsek? Jangan kamu hanya terus membelanya. Kamu tidak menyadari bahwa kita sekaum. Kamu pikir hanya ada kamu dan aku saja? Ternyata kamu jauh lebih bodoh dari padaku. Masih banyak yang lainnya, yang tidak kamu tahu.
Kalaupun kamu ingin tetap menganggapku sebagai musuh, itu tidak menjadi masalah. Toh hati kamu juga yang rusak karena membenci orang lain, dan orang yang kamu benci dan kamu anggap salah juga belum tentu seperti apa yang kamu kira.
Memang benar, setinggi-tingginya kepandaian seseorang, sehebat-hebatnya pengalaman seseorang, tetap saja menjadi bodoh dan tunduk pada hal yang membuatnya jatuh cinta. Dan itu kamu. Bahkan kamu sadar akan sebuah kenyataan yang sudah jelas-jelas di depan mata, tapi kamu tetap terbuai. Jangan terlalu munafik, berbicara tentang keikhlasan, kepasrahan, dan mendoakan. Sudah terlalu biasa. Ngomong itu memang lebih mudah dari pada melaksanakan. Toh sekarang kamu sedang asik menjilat kembali ludah yang sudah kamu buang.
Ikhlas bukan seperti ini, kamu berbicara lalu melakukan yang lain di belakang. Pasrah bukan seperti ini, kamu masih saja berusaha dengan menanggapi. Mendoakan bukan seperti ini, kamu mendoakan yang terbaik, dan kamu sendirilah yang sedang menghancurkan apa yang kamu doakan. Apa itu bukan munafik? Sekarang siapa yang gila?
Mungkin saat ini kamu tertawa karena melihatku dibodohi. Tak mengapa. Mungkin kamu belum puas dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu. Aku tidak ingin mendoakan keburukkan untuk orang lain. Tapi aku berharap Tuhan tidak buta untuk melihat kelakuanmu di belakangku. Sadarlah untuk tidak menjadi perusak, karena kamu pun sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dirusak. Tapi jika kamu ingin menjadikanku tempat pembalasan, silahkan saja. Tuhan Maha Melihat. Tuhan tahu bahwa niat saya bukan merusak, hal ini juga tidak akan terjadi jika saya tidak diberikan peluang darinya. Dan segala yang terjadi saat ini bukan hanya karena keinginan saya, tapi juga keinginannya. Sadarilah itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar