Akhirnya terlintas juga di benak untuk melanjutkan kisah tentang si Bung yang diceritakan pada bagian pertama. Terakhir kali tulisan di Babak Pertama adalah tentang awal bagaimana cintaku digantung.
Benar demikian, komunikasi yang mulai saya bangun bersamanya terus berlanjut bahkan sudah jauh lebih intens. Meskipun terkadang dia menghilang berhari-hari bahkan berminggu-mingggu. Kami memang tidak pernah memiliki kesepakatan untuk membangun sebuah hubungan, tapi kami saling mengungkapkan rasa cinta kami. Komunikasi kami yang berjalan rasa-rasanya sudah seperti orang yang berpacaran.
Pertemuan kedua kami pun terjadi. Waktu itu aku ke kota tempatku berkuliah dulu untuk mengurus beberapa berkas. Aku menyempatkan diri untuk mampir ke kotanya sepulang pengurusan dari kota tujuanku. Kebetulan karena ada adikku juga yang berkuliah di kotanya, sehingga aku bisa sekalian berjumpa dengannya. Pertemuan kedua ini bukanlah seperti pertemuan pertama saat kami bertemu di kota tempat kami melaksanakan kegiatan rohani waktu itu. Pertemuan kali ini berbeda, karena kami sudah saling panggil sayang dan memiliki hubungan jarak jauh yang begitu intens.
Sesampainya aku di sana, rasa deg deg an ku mulai muncul tak karuan. Yah, aku mungkin benar-benar jatuh cinta. Pertemuan kedua kami pun terjadi. Dia mendatangi tempat tinggal adikku, rasanya aku begitu malu, begitu kaku. Benar-benar memalukan. Ahh.. kasmaran. Kami banyak bercerita saat itu, lebih tepatnya dia yang banyak bercerita karena aku selalu tidak mempunyai bahan untuk memulai sebuah percakapan. Kami bertemu beberapa kali saat aku di sana. Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari, tidak cukup lima kali pertemuan. Selain bercerita tentang hal-hal lucu dan hal-hal lainnya, aku juga sempat diajak makan di luar dalam beberapa pertemuan dengannya. Saat diboncengi tak lupa dia memintaku untuk selalu memeluknya dan tidak melepaskan pelukan itu. Wajahku rasanya benar-benar memerah saat itu. Kalian tahu? Aku benar-benar bahagia diperlakukan demikian. Aku sudah lupa akan segala hal. Bahkan aku tidak sempat berpikir bahwa mungkin bukan hanya aku saja yang diperlakukan demikian. Cinta memang benar-benar buta, sangat buta.
Pertemuan terakhir saat itu benar-benar memilukan. Karena hujan yang begitu deras, malam yang semakin larut. Padahal keesokkan paginya aku akan segera kembali pulang ke kotaku. Aku pikir dia tak akan datang. Ternyata salah, dia tetap datang. Malam sekali waktu itu, menabrak cuaca yang buruk diantar oleh kakaknya. Katanya selarut apapun dia pasti akan datang untuk melihatku. Lihatlah bagaimana dia begitu manis memperlakukanku, wanita mana yang tidak jatuh hati. Aku bukan hanya sekedar jatuh hati, tapi aku tenggelam.
Komunikasi kami tetap berjalan dengan baik meskipun aku telah kembali pulang ke kotaku. Tetap intens dalam jarak jauh. Lalu sekali lagi aku berkunjung ke kotanya dan kami kembali bertemu. Pertemuan kali ini benar-benar hangat, karena kami telah memupuk rindu selama berhubungan jarak jauh. Rasa rindu yang begitu dalam kami tumpahkan melalui pertemuan berikut ini. Aku benar-benar sangat merindukannya. Sebelum pertemuan ini, dia sudah jujur akan adanya hubungan bersama orang lain lagi selain denganku. Oleh sebab itu aku merencanakan kedatanganku yang berikut ini karena cinta yang sudah aku punya dan untuk mengenalnya jauh lebih dekat lagi. Aku tidak sedang berusaha merusak hubungannya dengan orang lain tersebut, tapi karena hubungan mereka sama dasarnya denganku yaitu tanpa pernyataan sedang berpacaran, maka aku merasa memiliki posisi yang sama dengan wanita itu, dan karena lelaki ini memberikanku peluang, mengapa aku harus menyerah? Lagi pula hubungannya dengan wanita lain itu adalah hubungan yang sulit untuk direstui oleh keluarga mereka, karena ada alasan tertentu yang tidak bisa aku tulis di sini. Dan.. aku begitu mudah percaya. Sebenarnya apa yang dikatakan olehnya adalah suatu kebenaran, tapi sayangnya itu belum semua. Ada banyak hal yang masih dia sembunyikan.
Aku berusaha tetap dekat dan tetap memiliki hubungan yang intens dengannya. Sebagaimana usahaku untuk kembali berkunjung ke kotanya. Tapi dipertemuan ini kami hanya sekali bertemu, tidak seperti saat pertama aku berkunjung ke kotanya, dia tidak sempat datang melihatku sebelum aku berangkat kembali ke kotaku. Walaupun demikian komunikasi kami tetap berjalan, meskipun sudah mulai ada kemarahan di dalamnya, saat di kotaku, aku mulai berpikir untuk pindah kerja ke kotanya. Sebenarnya ini bukan hanya sekedar agar aku dekat dengannya. Ini memang impianku. Impian untuk bekerja di ibukota provinsi sejak dulu, dan itu adalah kota tempat tinggalnya. Hal itupun terwujud, aku berhasil pindah. Menunggu sekitaran dua bulan lalu dipanggil dan bekerja, aku benar-benar senang. Apalagi tempat kerja ini merupakan impianku sejak dulu. Pertemuanku dengannya baru sekali semenjak aku pindah ke kotanya. Itupun setelah satu bulan aku menunggunya. Aku mulai merasa bahwa hubungan kami sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan. Awalnya dia begitu rajin mengontakku saat tahu aku sedang datang ke kotanya. Tapi hanya sebatas itu. Yang sekalipun, mungkin dia juga datang dengan terpaksa atau hanya kebetulan. Kami bertemu, dan aku melihat ada begitu banyak hal yang dia sembunyikan dariku. Semakin banyak aku rasa. Dari tingkahnya, dari matanya, kehadirannya pun tidak membuatku merasa seperti dulu. Ketika aku ingin menyerah, dia seperti terus ingin maju. Dan ketika aku ingin maju, dia seperti ingin menyerah.
Tapi tahukah kalian? Lelaki inilah yang masih aku cintai sampai dengan saat ini. Karena sekarang dia adalah teman hidupku. Mengapa dia bisa menjadi teman hidupku padahal hubungan kami begitu rumit? Jawabannya hanya satu, atas kehendak-Nya.
Translate
Jumat, 24 November 2017
Senin, 13 November 2017
Kemunafikan
Jangan buta karena cinta. Kamu mungkin membenci banyak orang hanya karena cinta yang membutakanmu. Hingga yang salah kamu benarkan, dan yang tak tahu apa-apa kamu persalahkan.
Hidup menjadi lebih mudah ketika kita merasa bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak kita sukai di dunia ini. Kalau saya diberikan pilihan, saya juga bisa berbalik memusuhimu. Tapi saya tidak ingin mengacaukan hidup saya hanya karena membenci orang yang membenci saya. Tugas saya hanya sebatas mengasihimu, walaupun sampai dengan saat ini kamu masih menganggap saya perusak.
Ingat orang berpendidikan, informasi yang baik hanya benar-benar real jika kamu tidak hanya mendengar dari satu pihak, apalagi pihak yang kamu dengarkan adalah yang kamu cinta. Karena cinta itu buta, kamu mungkin juga bodoh. Karena jika memang dia baik, dia tidak akan membiarkan semua terjadi seperti sekarang ini. Nah, sekarang siapa yang brengsek? Jangan kamu hanya terus membelanya. Kamu tidak menyadari bahwa kita sekaum. Kamu pikir hanya ada kamu dan aku saja? Ternyata kamu jauh lebih bodoh dari padaku. Masih banyak yang lainnya, yang tidak kamu tahu.
Kalaupun kamu ingin tetap menganggapku sebagai musuh, itu tidak menjadi masalah. Toh hati kamu juga yang rusak karena membenci orang lain, dan orang yang kamu benci dan kamu anggap salah juga belum tentu seperti apa yang kamu kira.
Memang benar, setinggi-tingginya kepandaian seseorang, sehebat-hebatnya pengalaman seseorang, tetap saja menjadi bodoh dan tunduk pada hal yang membuatnya jatuh cinta. Dan itu kamu. Bahkan kamu sadar akan sebuah kenyataan yang sudah jelas-jelas di depan mata, tapi kamu tetap terbuai. Jangan terlalu munafik, berbicara tentang keikhlasan, kepasrahan, dan mendoakan. Sudah terlalu biasa. Ngomong itu memang lebih mudah dari pada melaksanakan. Toh sekarang kamu sedang asik menjilat kembali ludah yang sudah kamu buang.
Ikhlas bukan seperti ini, kamu berbicara lalu melakukan yang lain di belakang. Pasrah bukan seperti ini, kamu masih saja berusaha dengan menanggapi. Mendoakan bukan seperti ini, kamu mendoakan yang terbaik, dan kamu sendirilah yang sedang menghancurkan apa yang kamu doakan. Apa itu bukan munafik? Sekarang siapa yang gila?
Mungkin saat ini kamu tertawa karena melihatku dibodohi. Tak mengapa. Mungkin kamu belum puas dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu. Aku tidak ingin mendoakan keburukkan untuk orang lain. Tapi aku berharap Tuhan tidak buta untuk melihat kelakuanmu di belakangku. Sadarlah untuk tidak menjadi perusak, karena kamu pun sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dirusak. Tapi jika kamu ingin menjadikanku tempat pembalasan, silahkan saja. Tuhan Maha Melihat. Tuhan tahu bahwa niat saya bukan merusak, hal ini juga tidak akan terjadi jika saya tidak diberikan peluang darinya. Dan segala yang terjadi saat ini bukan hanya karena keinginan saya, tapi juga keinginannya. Sadarilah itu.
Hidup menjadi lebih mudah ketika kita merasa bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak kita sukai di dunia ini. Kalau saya diberikan pilihan, saya juga bisa berbalik memusuhimu. Tapi saya tidak ingin mengacaukan hidup saya hanya karena membenci orang yang membenci saya. Tugas saya hanya sebatas mengasihimu, walaupun sampai dengan saat ini kamu masih menganggap saya perusak.
Ingat orang berpendidikan, informasi yang baik hanya benar-benar real jika kamu tidak hanya mendengar dari satu pihak, apalagi pihak yang kamu dengarkan adalah yang kamu cinta. Karena cinta itu buta, kamu mungkin juga bodoh. Karena jika memang dia baik, dia tidak akan membiarkan semua terjadi seperti sekarang ini. Nah, sekarang siapa yang brengsek? Jangan kamu hanya terus membelanya. Kamu tidak menyadari bahwa kita sekaum. Kamu pikir hanya ada kamu dan aku saja? Ternyata kamu jauh lebih bodoh dari padaku. Masih banyak yang lainnya, yang tidak kamu tahu.
Kalaupun kamu ingin tetap menganggapku sebagai musuh, itu tidak menjadi masalah. Toh hati kamu juga yang rusak karena membenci orang lain, dan orang yang kamu benci dan kamu anggap salah juga belum tentu seperti apa yang kamu kira.
Memang benar, setinggi-tingginya kepandaian seseorang, sehebat-hebatnya pengalaman seseorang, tetap saja menjadi bodoh dan tunduk pada hal yang membuatnya jatuh cinta. Dan itu kamu. Bahkan kamu sadar akan sebuah kenyataan yang sudah jelas-jelas di depan mata, tapi kamu tetap terbuai. Jangan terlalu munafik, berbicara tentang keikhlasan, kepasrahan, dan mendoakan. Sudah terlalu biasa. Ngomong itu memang lebih mudah dari pada melaksanakan. Toh sekarang kamu sedang asik menjilat kembali ludah yang sudah kamu buang.
Ikhlas bukan seperti ini, kamu berbicara lalu melakukan yang lain di belakang. Pasrah bukan seperti ini, kamu masih saja berusaha dengan menanggapi. Mendoakan bukan seperti ini, kamu mendoakan yang terbaik, dan kamu sendirilah yang sedang menghancurkan apa yang kamu doakan. Apa itu bukan munafik? Sekarang siapa yang gila?
Mungkin saat ini kamu tertawa karena melihatku dibodohi. Tak mengapa. Mungkin kamu belum puas dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu. Aku tidak ingin mendoakan keburukkan untuk orang lain. Tapi aku berharap Tuhan tidak buta untuk melihat kelakuanmu di belakangku. Sadarlah untuk tidak menjadi perusak, karena kamu pun sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dirusak. Tapi jika kamu ingin menjadikanku tempat pembalasan, silahkan saja. Tuhan Maha Melihat. Tuhan tahu bahwa niat saya bukan merusak, hal ini juga tidak akan terjadi jika saya tidak diberikan peluang darinya. Dan segala yang terjadi saat ini bukan hanya karena keinginan saya, tapi juga keinginannya. Sadarilah itu.
Sabtu, 11 November 2017
Belum Jadi Pemenang
Aku tidak bisa terus menerus menyembunyikan perasaanku.
Aku sadar bahwa apapun yang terjadi, aku tetaplah sang pemilik, tapi hanya sebatas apa yang terlihat. Mata bisa melihat itu, tapi tidak dengan apa yang terjadi di dalam.
Berawal dari suatu keharusan yang membuat segala sesuatunya harus terjadi. Apa ini yang disebut takdir? Takdir yang begitu menyiksa banyak orang. Jangan salahkan aku, bukan aku yang memulainya. Aku hanyalah salah satu dari kalian, bahkan salah satu yang tidak terfokuskan olehnya. Hanya saja takdir Tuhan yang mengijinkan aku bersamanya. Aku mungkin bahagia seperti yang kalian lihat, tapi sebenarnya aku benar-benar menyedihkan.
Apakah ini hukuman untukku? Apa kalian mengutukku? Aku tahu kalian orang yang baik, apapun yang kalian lakukan sampai dengan saat ini sama sekali tidak berniat menyakitiku. Tapi tetap saja, aku sedih. Sedih karena keadaan menjadi serumit ini. Maafkan aku wanita.
Saat ini aku hanya bisa menyaksikan tanpa memberontak. Terdengar bodoh tapi itulah yang terjadi. Aku hanya bisa melihat, lalu diam-diam bersembunyi dan tersedu-sedu. Karena aku sadar, aku tidak bisa banyak meminta. Apa yang sekarang telah terjadi seharusnya sudah jauh lebih dari cukup untukku. Menyedihkan bukan? Lebih menyedihkan mana, mencintai tanpa memiliki? Atau memiliki tanpa dicintai?
Kalian sedih, aku jauh lebih menyedihkan. Kalian diam-diam bermain di belakangku yang sebenarnya sudah aku ketahui, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kalian bukan hanya sekedar cinta tapi juga memiliki. Memiliki hati dan jiwanya. Bukankah itu jauh lebih menyedihkan bagiku?
Aku hanya bisa pasrah dan terus berusaha memenangkannya. Jadi saat ini aku belum menjadi pemenangnya.
Aku harus selalu tersenyum di depan orang-orang, seolah-olah aku baik-baik saja. Bukan hanya itu, bahkan di depannya pun aku harus berpura-pura. Kehidupan macam apa yang sedang aku jalani ini? Hanya aku dan Tuhan yang tahu kebenaran hatiku. Seperti bermain peran, seumur hidupkah harus aku lakoni?
Aku tetap mengasihinya, bagaimanapun perilakunya. Aku ingin memahaminya sesakit apapun pengaruhnya untukku. Demi janji yang aku buat, aku akan merawatnya dengan sepenuh hatiku. Aku mendoakannya untuk bisa berbenah, sebaik-baiknya, setulus-tulusnya. Aku tidak ingin hal ini hanya menjadi urusannya dengan Tuhan. Aku tidak ingin Tuhan menghukumnya, separah apapun dia bertindak. Aku ingin selalu ada pengampunan baginya. Dan juga bagi kalian, aku mohon berhentilah. Kalian sekaum denganku, tentu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Aku tahu kalian terluka, tapi kalian bisa bangkit dengan perlahan. Namun aku, aku harus berjuang sendiri atas apa yang telah terjadi saat ini. Aku mendoakan kebaikan untuk kalian.
Aku sadar bahwa apapun yang terjadi, aku tetaplah sang pemilik, tapi hanya sebatas apa yang terlihat. Mata bisa melihat itu, tapi tidak dengan apa yang terjadi di dalam.
Berawal dari suatu keharusan yang membuat segala sesuatunya harus terjadi. Apa ini yang disebut takdir? Takdir yang begitu menyiksa banyak orang. Jangan salahkan aku, bukan aku yang memulainya. Aku hanyalah salah satu dari kalian, bahkan salah satu yang tidak terfokuskan olehnya. Hanya saja takdir Tuhan yang mengijinkan aku bersamanya. Aku mungkin bahagia seperti yang kalian lihat, tapi sebenarnya aku benar-benar menyedihkan.
Apakah ini hukuman untukku? Apa kalian mengutukku? Aku tahu kalian orang yang baik, apapun yang kalian lakukan sampai dengan saat ini sama sekali tidak berniat menyakitiku. Tapi tetap saja, aku sedih. Sedih karena keadaan menjadi serumit ini. Maafkan aku wanita.
Saat ini aku hanya bisa menyaksikan tanpa memberontak. Terdengar bodoh tapi itulah yang terjadi. Aku hanya bisa melihat, lalu diam-diam bersembunyi dan tersedu-sedu. Karena aku sadar, aku tidak bisa banyak meminta. Apa yang sekarang telah terjadi seharusnya sudah jauh lebih dari cukup untukku. Menyedihkan bukan? Lebih menyedihkan mana, mencintai tanpa memiliki? Atau memiliki tanpa dicintai?
Kalian sedih, aku jauh lebih menyedihkan. Kalian diam-diam bermain di belakangku yang sebenarnya sudah aku ketahui, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kalian bukan hanya sekedar cinta tapi juga memiliki. Memiliki hati dan jiwanya. Bukankah itu jauh lebih menyedihkan bagiku?
Aku hanya bisa pasrah dan terus berusaha memenangkannya. Jadi saat ini aku belum menjadi pemenangnya.
Aku harus selalu tersenyum di depan orang-orang, seolah-olah aku baik-baik saja. Bukan hanya itu, bahkan di depannya pun aku harus berpura-pura. Kehidupan macam apa yang sedang aku jalani ini? Hanya aku dan Tuhan yang tahu kebenaran hatiku. Seperti bermain peran, seumur hidupkah harus aku lakoni?
Aku tetap mengasihinya, bagaimanapun perilakunya. Aku ingin memahaminya sesakit apapun pengaruhnya untukku. Demi janji yang aku buat, aku akan merawatnya dengan sepenuh hatiku. Aku mendoakannya untuk bisa berbenah, sebaik-baiknya, setulus-tulusnya. Aku tidak ingin hal ini hanya menjadi urusannya dengan Tuhan. Aku tidak ingin Tuhan menghukumnya, separah apapun dia bertindak. Aku ingin selalu ada pengampunan baginya. Dan juga bagi kalian, aku mohon berhentilah. Kalian sekaum denganku, tentu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Aku tahu kalian terluka, tapi kalian bisa bangkit dengan perlahan. Namun aku, aku harus berjuang sendiri atas apa yang telah terjadi saat ini. Aku mendoakan kebaikan untuk kalian.
Langganan:
Postingan (Atom)


