Melakukan apa yang tidak aku sukai mungkin lebih sering aku lakukan, terkadang aku sadar, dan juga tidak sadar saat melakukannya. Lebih banyak tidak sadar sih dari pada sadar. Aku seorang manusia yang sebenarnya hidup di bawah kendali "Apa kata orang", dan inilah yang membuatku takut untuk melakukan hal berbeda, bahkan takut untuk mengikuti kata hatiku sendiri.
Menjadi seseorang yang sering tampil diberbagai perlombaan nyanyi solo sebenarnya bukanlah gayaku. Aku seorang pemalu yang bahkan berbicara dengan satu orang saja rasanya benar-benar menakutkan. Aku selalu menjauhi keramaian, aku selalu menyendiri, apa yang ada di dalam otakku sebenarnya memerintahkanku untuk terlihat perfect karena aku seorang yang melankolis. Dan salah satu ciri seorang melankolis adalah berusaha terlihat sempurna.
Mama, sosok yang selalu mendukungku untuk ikut berbagai perlombaan nyanyi. Sebenarnya bukan mendukung, lebih tepatnya menyuruh. Kesal dengan itu aku tidak pernah menolak perintah Mama yang menjadikanku seperti boneka menurut kata adik laki-lakiku. Tapi aku tetap merasa ingin menjadi anak yang baik, dengan mengikuti semua yang Mama inginkan. Sebenarnya aku juga mencintai seni, tapi seni yang aku senangi saat itu adalah menggambar. Dulu yang paling sering aku gambar adalah lapisan kulit manusia, segala sesuatu yang berbau biologi, entah itu sel, kromosom, pembedahan katak, dan lainnya.
Mengikuti perlombaan nyanyi akhirnya membuat aku mulai mencintai musik. Gitar adalah alat musik pertama yang bisa kumainkan, tepatnya waktu kelas 2 SMP. Itu semua juga didukung oleh guru kesenianku yang bagus. Selanjutnya aku mempelajari ukulele, organ tunggal sampai dengan piano. Walaupun otodidakku sebenarnya ngasal, aku selalu dianugerahi dekat dengan beberapa pria yang pintar dalam musik. Jadi bukan hanya sekedar cinta, aku juga mencuri ilmu. Hehehe.
Walaupun aku sering dibilang boneka Mama oleh adikku, tapi aku selalu merasa beruntung dengan keadaan ini. Berkat doping dari Mama aku jadi bisa bernyanyi dan memainkan alat musik. Tentang musik, ini tidak berakhir sampai di situ, aku masih ingin belajar alat musik lain, hanya saja waktuku yang sekarang sulit untuk diatur karena pekerjaan profesiku memakai shift dan jadwal yang tidak menentu. Meskipun begitu, aku tidak pernah berhenti untuk terus belajar.
Beranjak dari hobi, kehidupan pendidikanku selalu berjalan mulus. Walaupun jurusan yang aku ambil saat kuliah bukanlah cita-citaku dahulu, waktu telah membuatku mulai mencintai profesi ini. Aku adalah sosok anak yang tidak ingin mencari masalah, sehingga semuanya berjalan lancar-lancar saja sampai aku memperoleh gelar S1 dan profesi. Tentunya itu membuat kedua orang tuaku bangga, lulus pada waktunya sekaligus memperoleh cum laude pada kedua jenjang. Sebenarnya harapanku selanjutnya adalah tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, akan tetapi orang tua berharap agar aku berpenghasilan dulu. Akhirnya dengan berat hati kuputuskan untuk pulang kembali ke tempat kelahiranku dan mengabdi di sana. Yah, dan aku bekerja seperti apa yang orang tuaku inginkan, tapi sayangnya aku hanya seorang tenaga magang. Tenaga sukarela, tanpa bayaran.
Pada awalnya aku menjalankan pekerjaanku itu dengan tulus sampai akhirnya aku merasa bahwa menjadi seseorang yang tulus itu tidak mudah. Aku dihadapkan dengan para pekerja lain yang malas-malasan, padahal mereka diupah. Lalu aku dan beberapa temanku yang adalah tenaga sukarela harus bekerja dengan penuh tanggung jawab. Lama sudah berjalan kurang lebih hampir 7 bulan, aku mulai tidak mencintai apa yang aku kerjakan, aku bosan, dan rasanya mau gila. Hanya keluh kesah yang selalu aku bawa saat pulang ke rumah. Aku mencoba berbicara tentang mimpi-mimpiku yang sejak dulu takut aku kemukakan, aku berbicara tentang angan-anganku yang ingin aku gapai. Dan akhirnya orang tuaku mulai memahami dan mengijinkanku melakukan apapun yang menurutku baik untuk dilakukan. Dengan ijin di tempatku bekerja saat ini, aku keluar kota dan memasukkan lamaran kerja di tempat lain. Sudah 2 minggu ijinku berjalan dan itu meresahkan para pekerja yang lain di tempatku bekerja, mereka terus menghubungiku untuk menanyakan kepastian kapan aku kembali. Niat hatiku sebelum berangkat sebenarnya adalah untuk resign dari sana, tapi aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menyampaikannya.
Sampai di sini aku begitu dilema, aku memang belum mendapat panggilan dari beberapa tempat ku melamar pekerjaan. Tapi aku yakin bahwa aku akan segera dipanggil. Aku terus belajar setiap hari, mengulang-ngulang pelajaran yang aku dapatkan dulu, dan terus belajar.
Tapi mereka, para pekerja itu terus menghubungiku. Apa aku harus segera kembali? Ataukah mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku ingin resign? Aku benar-benar dilema. Aku takut disangka egois, aku takut dibilang tidak bersyukur. Aku banyak meminta saran dari beberapa teman yang aku percaya. Ada yang menyarankan untuk tetap bersabar sampai mendapatkan pekerjaan yang baru, ada juga yang bilang disayangkan karena belum mendapatkan pekerjaan baru, dan juga ada yang prihatin karena ternyata aku hanya tenaga magang. Itu semakin membuatku pusing, karena kata hatiku memang benar-benar ingin resign, tapi kembali lagi aku takut dengan pendapat orang nantinya.
Aku mulai coba membayangkan jika aku kembali dan bekerja seperti itu lagi, ahh.. rasanya aku sudah tidak mau lagi. Lebih baik aku tinggal di rumah. Perasaan dilema ini membuatku benar-benar sakit kepala. Rasanya aku ingin berteriak dengan keras. Aku mulai capek dengan apa kata orang, aku mulai capek jika segala sesuatu yang ingin aku lakukan selalu mempertimbangkan pemikiran orang lain. Sebenarnya untuk apa aku hidup seperti itu? Bukan seperti apa yang aku inginkan, seperti bukan aku.
Ada seorang teman yang memberi wejangan padaku, aku memintanya untuk membayangkan jika dia ada di posisiku. Dengan lantang dia menjawab "Sebaiknya kamu resign saja". Lalu aku sampaikan risaunya niatku untuk resign, aku takut dibilang egois dan tidak bersyukur. Dan dia merespon dengan kalimat-kalimat yang membuatku merasa yakin.
"Tanyakanlah pada dirimu sendiri. Namun jika saya berada di posisimu, saya akan memilih untuk keluar, karena untuk apa kita bekerja jika tidak digaji? Sedangkan ilmu yang kita dapatkan tidak gratis. Apalagi diusia segini kamu sudah harus berpenghasilan. Silahkan perkuat pilihanmu dengan berdoa meminta petunjuk, dan selanjutnya ikuti kata hatimu. Kalau saya sih selalu mengikuti kata hati saya sejauh ini. Kalau takut dengan perkataan orang soal egois dan tidak bersyukur, saya rasa itu tidak jadi pengaruh juga. Karena setelah resign kamu akan tetap mencari pekerjaan sesuai dengan keterampilanmu, semua orang pasti akan bersyukur karena sudah punya pekerjaan. Tapi yang jadi masalah kamu tidak digaji. Apapun pendapat orang tidak perlu diterima mentah-mentah, harus kita olah dulu. Kalau mereka ada di posisimu, mereka juga pasti sulit untuk menerima. Jadi keputusanmu untuk resign hanya kamu yang tahu dan kamu yang rasakan. Jadi sebaiknya jangan pedulikan omongan orang".
Aku berpikir. Mungkin inilah saatnya aku melakukan apa yang ingin aku lakukan, sudah cukup aku hidup di dalam kendali "Apa kata orang". Terima kasih kawan, kalimatmu membuat aku jauh lebih berani mengambil keputusan. Aku harus buktikan bahwa keputusanku adalah yang terbaik untuk diriku sendiri. Aku ingin melakukan apa yang aku suka, bukan yang orang lain suka. Aku ingin mengikuti kata hatiku, bukan perkataan orang lain. Karena aku bukan pengecut. BSB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar