Translate

Senin, 29 Mei 2017

Si Bung - Babak Pertama


Tadinya bagiku mengenalmu adalah hal terindah yang pernah kualami dalam hidup ini. Kamu bukan hanya sekedar cinta, tapi kamu adalah penghapus masa kelamku yang begitu menyedihkan. Aku tidak pernah bermimpi bisa melupakan orang yang dulu begitu aku sayangi, rasa tak mungkin karena aku telah memberikan seluruh hatiku padanya, tapi kehadiranmu ternyata membuktikan bahwa hatiku masih mampu dicuri oleh orang lain, dan itu kamu. Kamu bukan hanya sekedar menghapus luka lama, tapi kamu adalah cinta yang begitu berarti dalam hidupku kini. Mengapa? Tulisan ini akan menceritakan segala hal tentangmu. Ini adalah kisah yang tidak pernah ingin aku lupakan, dan aku menjadikannya tulisan yang dapat aku baca berulang kali untuk selalu mengingatmu yang kini begitu terasa jauh.

Mengikuti sebuah kegiatan rohani semasa berlibur cukup baik, aku menyempatkan diri mengikuti kegiatan tersebut untuk mengisi waktu luang, tak disangka-sangka kegiatan itulah awal dari perjumpaan kita. Kamu adalah seorang pemain biola. Saat itu aku belum mengenal siapa dirimu, yang aku tahu kamu adalah seorang pemain biola dari ibukota provinsi yang datang bersama kelompok pemuda untuk mengikuti kegiatan rohani yang diadakan di kotaku. Aku pikir kamu memang adalah orang dikotaku, maklum sudah lama aku tidak berbaur dengan kegiatan rohani seperti ini, banyak orang dengan wajah baru yang baru aku kenal saat itu. Dan ternyata kamu memang dari ibukota, bukan dari kotaku.

Aku hanya melihat seperti itu, lalu sudah. Tak ada sedikitpun perasaan tertarik saat itu. Namun karena aku bertanya pada temanku tentang siapa kamu, mereka mulai berpikir bahwa aku tertarik, dan selalu menjadikan itu candaan membuatku malu-malu. Pada dasarnya aku adalah tipikal orang yang pendiam, saat diganggu seperti itu, tentu rasanya aneh dan membuatku tidak tenang kalau harus melihatmu.

Selama kegiatan itu berlangsung, ada saja momen-momen yang sebenarnya membuatku salah tingkah, tapi tidak disadari olehmu. Terutama saat kita harus sekelompok untuk berdiskusi. Saat menyebutkan nomor untuk membentuk kelompok, aku terus berharap jangan sampai sekelompok denganmu. Tapi ternyata apa yang aku takutkan justru terjadi, kita sekelompok. Rasanya aku mau gila saja, bukan karena ada rasa tertarik padamu, tapi kesimpulan teman-temankulah yang membuatku jadi tidak nyaman bila harus berada di dekatmu. Saat aku datang untuk bergabung bersama kelompok, ternyata teman-teman yang lain sudah menyiapkan tempat untukku, dan parahnya tempat yang disiapkan adalah di sampingmu. Aku tidak mungkin menolak saat itu, karena itu akan membuat perasaan tidak nyamanku semakin terlihat. Jujur, dengan terpaksa aku harus duduk di sampingmu. Yah sudahlah.

Kitapun saling berkenalan dengan teman kelompok, termasuk aku dan kamu. Rasanya aku jadi benar-benar salah tingkah, rasa malu yang kumiliki terlalu nampak, entahlah saat itu kamu merasakannya atau tidak. Saat itu kamu berbohong tentang umurmu, 20 tahun katanya. Hahaha aku shock, karena jujur penampilanmu benar-benar terlihat dewasa, sedangkan tubuhku yang kecil ini sudah berusia 24 tahun saat itu. Tiba-tiba aku mulai menyadarkan diri, kamu kemudaan untuk ditaksir. Tapi hatiku terus tak percaya dengan umurmu yang katanya 20 tahun itu. Setelah lama kita berdiskusi akhirnya kamu jujur juga bahwa tahun itu kamu sudah masuk umur yang ke 25, hahaha ternyata tua setahun dariku, itukan apa aku bilang. Memang lucu candaanmu, tapi itu benar-benar membuatku shock. Untuk pertama kalinya obrolan kita, kamu dapat nilai plus karena begitu ramah dan penuh dengan candaan.

Setelah itu aku selalu diganggu oleh teman-temanku karena sekelompok denganmu, bahkan saat mengikuti materi kegiatan, mereka selalu sengaja mengatur siasat agar aku dapat duduk di sampingmu, tapi aku tetap selalu menghindar sehingga siasat mereka tidak terealisasi dengan baik. Untuk duduk bersebelahan denganmu aku harus punya mental yang kuat, yang ada aku malah jadi tidak bisa menyimak materi dengan baik karena tidak tenang duduk di sampingmu. Sepertinya rasa itu mulai muncul.

Banyak momen-momen berharga yang aku rasakan selama kegiatan itu, cukup membuatku begitu bahagia, seperti saat mengantri kamar mandi pagi-pagi, kamu datang dan meminta masuk duluan hanya sebentar, kamu begitu sopan dan selalu penuh dengan candaan, sepertinya hidupmu selalu disertai dengan tawa, tapi ternyata aku menilaimu dengan begitu cepat dan akhirnya takabur juga.

Bisa berfoto denganmu sebenarnya bukankah hal yang aku rencanakan saat itu. Tapi kamu tiba-tiba datang dan menawarkan foto bersama dengan teman-teman yang lain juga saat kita sedang berwisata rohani saat itu, dan kita pun sempat foto berdua. Saat itu tanganmu menyentuh pundakku, aku benar-benar bahagia. Karena aku tidak ingin terlihat kaku, aku pun ingin merangkulmu, namun kamu terlalu tinggi untuk aku gapai, jadi aku memeluk pinggangmu. Oh Tuhan.. rasanya aku sudah tidak bisa banyak goyang lagi, kakiku gemetar, bibirku pun gemetar, sehingga senyumku seolah dipaksakan. Yah mau bagaimana lagi, namanya juga grogi. Asalkan ada foto berdua denganmu, aku sudah sangat senang. Benar-benar hangat dirangkul olehmu, jantungku berdetak sangat cepat. Aku benar-benar senang saat itu sayang. Terima kasih. Setelah luka yang telah aku alami, kamu hadir sebagai seseorang yang membuatku memiliki rasa suka kembali pada lawan jenis. Terima kasih sayang, sampai saat ini aku benar-benar menyayangimu.

Hasil foto-foto bersama dengan teman-teman yang lain benar-benar bagus menurutmu, dan aku masih ingat kamu bilang salah satu foto itu mahal. Hehehe. Dalam perjalanan pulang dari wisata rohani, di bus kamu juga meminjam kameraku untuk melihat kembali foto-foto kita, kamu juga meminta agar kita berteman di social media, agar foto-foto itu bisa dikirim, saat itu aku berpikir kamu cukup berteman dengan temanku untuk mendapatkan foto-foto itu, sehingga aku tidak perlu ikut-ikutan berteman denganmu juga di social media.

Kamu bahkan sempat buang suara untuk meminta nomor telepon agar aku dapat mengirim foto lewat messenger. Tapi aku justru tidak peka dengan mengabaikan permintaan itu. Bodoh, aku melewatkan momen dimana kita bisa mulai berkomunikasi. Entahlah saat itu hal apa yang sedang bernaung di kepalaku, sehingga aku melewatkan kesempatan berharga itu. Yah sudahlah, toh saat ini juga kita sudah berkomunikasi.

Saat kembali ke tempat kegiatan kamu sempat melihat ulang kembali foto-foto kita yang sudah aku pindahkan di tablet, kamu pun bertanya tentang pertemanan kita di social media, apakah kamu sudah aku add, dan aku menjawab belum. Katamu kita harus berteman dulu, akhirnya kupersilahkan kamu searching nama akunmu sendiri pada tabletku yang sedang kamu pegang. Maklumlah, namamu terlalu sulit untuk aku cari. Akhirnya kita berteman di salah satu social media juga. Dalam hati aku sangat senang, tapi tidak sebegitu senangnya karena ternyata dari hasil kepo yang aku lakukan, ternyata kamu sudah punya someone special. Hahaha. Sejak saat itu aku urungkan niatku sampai nyaris hilang untuk menaksirmu, karena aku tidak suka menjadi pengganggu dalam hubungan orang lain.

Terlepas dari semua itu, perasaan memang tidak bisa dikendalikan, sesekali aku curi-curi pandang melihatmu, aku sudah sering membuang jauh-jauh pandanganku terhadapmu, tapi sekarang kamu yang keseringan muncul di hadapanku. Terkadang kamu muncul tiba-tiba setelah mandi, tanpa mengenakan atasan dengan tubuhmu yang masih tampak lembab, rambutmu yang basah. Hahaha adem banget, tapi itu membuatku jadi salah tingkah juga, akhirnya aku berlari masuk kembali ke kamarku di tempat kegiatan rohani untuk menghindari liarnya mataku yang jelalatan melihatmu.

Aku mulai hafal suara tawamu, sering aku dengar dari kamar ketika kamu masih bercengkrama dengan teman-temanmu dilarutnya malam. Tawamu begitu terdengar bahagia bahkan sampai saat ini. Mendengarmu tertawa membuatku ikut bahagia, ada suara lain yang selalu aku rindukan dari dirimu, suara ngorokmu diiringi bunyi kipas angin di kamarmu. Aku selalu merindukan itu, kini aku sudah sangat jarang mendengarnya, kamu sudah mulai jarang menelponku. Aku begitu merindukan intensnya komunikasi kita sayang, tapi mengapa kamu seperti sengaja mengabaikanku?

Banyak hal yang terjadi di tempat kegiatan rohani itu. Aku masih ingat bagaimana modusnya aku mengikuti teman-temanku untuk balik ke tempat kegiatan yang sebenarnya sudah berakhir. Saat itu kami kembali pada malam hari untuk mengajak jalan salah satu teman kalian dari ibukota, aku selalu berharap melihatmu sekali lagi, karena aku pikir setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi, dan rasa sukaku akan selesai juga pada esok hari di hari keberangkatan kalian untuk pulang kembali ke ibukota. Ada banyak hal yang tidak terlupakan sampai mungkin ada yang terlupakan juga. Karena setiap momen bersamamu, sedetikpun sangat begitu berharga bagiku, namun tidak dapat kujabarkan dalam tulisan ini satu persatu. Tapi aku selalu mengingatnya dalam hati, dan mengulangnya dalam pikiranku. Intinya kamu begitu berharga dalam ingatanku. Aku mencintaimu.

Setelah kepulanganmu dan teman-temanmu kembali ke ibukota, aku tidak bisa menghentikan niatku untuk kepo tentang keadaanmu di sana. Dan aku mulai meraba-raba, sepertinya kamu sudah tidak punya hubungan lagi dengan seseorang yang tadinya aku pikir masih someone special buatmu. Akhirnya aku jadi semakin bersemangat untuk selalu mengecek keadaanmu via kepo doank. Hehehe. Oh iya, aku masih ingat waktu makan siang terakhir kita di kegiatan rohani waktu itu, kamu sempat mengeluhkan BBM mu yang katanya lagi error. Katamu waktu itu, kalau kita berteman di BBM lebih baik, hahaha. Aku benar-benar deg deg gan saat itu, apalagi hanya karena mau membahas soal itu, kamu berpindah dari tempat dudukmu untuk duduk lebih dekat bersamaku dan salah seorang temanku. Akhirnya kita berkirim foto via bluetooth, kamu juga meminta aku untuk searching video kamu di youtube, dan meminta aku buat ngelike. Hahaha promo ya Bung? It's okelah, jadi aku bisa lebih tahu tentangmu. Kamu banyak bercerita, sampai dengan pengalamanmu sewaktu KKN di Saparua. Kamu memang benar-benar pintar berbaur, hatiku sampai ikut terbaur tak karuan, hahaha.

Baiklah, meninggalkan ingatan sepotong itu. Hasil kepoku menghasilkan sesuatu, pin BBM yang kamu upload, sepertinya BBM mu sudah bagus ya? Hehehe, akhirnya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung add pinmu, kamu menerima, dan sudah, hanya seperti itu, hanya berteman. Besoknya tidak ada perubahan, kita hanya sekedar berteman, aku mulai menepuk-nepuk keningku, berusaha untuk sadar. Sudahlah, nothing special di antara kita. Aku hanya perlu merasa ini seperti pertemanan biasa. Sampai akhinya keputus asaanku berujung pada menghabiskan paket data dan tidak ingin membelinya lagi. Aku pikir lebih baik untuk tidak online. Sampai suatu ketika aku kembali mengaktifkan data dan jreng.. jreng.. ada satu BBM masuk yang berbunyi PING ! Dan itu darimu, si Bung. Dan parahnya BBM itu adalah BBM dari hari kemarin. Aku begitu menyesal rasanya melewatkan kesempatan ini. Akhirnya ku balas saja dengan PING kembali, namun ternyata hanya diread, aku semakin menyesal. Di suatu tengah malam, kamu PING kembali aku dan menanyakan kabarku. Aku yang sedang asyik menonton TV langsung terkejut, jantungku mau copot rasanya. Aku menjawab sapaanmu dengan juga selalu memberikan pertanyaan balik agar obrolan kita tidak terputus. Tapi ternyata hal seperti itu tidak mempan, berasa gantung. Perasaan BBM terakhirku masih bersifat pertanyaan deh yang sekiranya harus kamu dijawab, tapi hanya diread. Yah sudahlah mungkin kamu sempat membacanya lalu tertidur, pikirku positif. Aku tidak menyadari bahwa ternyata ini adalah awal bagaimana cintaku akan digantung. LMdBS

Minggu, 28 Mei 2017

Mengapa Aku si Dandelion?

Aku memiliki seorang teman dekat yang juga menggunakan nama bunga untuk mendeskripsikan bagaimana dirinya. Mawar Berduri. Filosofi yang pernah dia ceritakan tentang arti dari Mawar Berduri adalah bunga cantik yang tidak sembarangan dapat disentuh oleh orang lain. Ya, Mawar. Siapa yang tidak kenal bunga ini, banyak orang yang mengartikan bunga ini sebagai lambang cinta yang begitu romantis. Mereka lupa bahwa bunga ini berduri.

Temanku berharap Mawar Berduri menjadi ikon yang menunjukkan seperti apa dirinya, sebuah bunga yang cantik dan banyak diminati orang, namun orang tersebut harus berhati-hati ketika ingin menyentuh bunga cantik ini karena berduri. Filosofi ini berarti bahwa temanku adalah seseorang yang cantik dan rupawan, banyak orang yang menyukainya, tapi tidak sembarangan orang yang dapat mendekatinya, karena berduri berarti orang tersebut harus lebih berhati-hati. Wah, aku rasa julukan Mawar Berduri ini benar-benar mahal.

Lalu bagaimana denganku? Aku sebut diriku si Dandelion. Bunga liar, tidak mahal, dapat tumbuh dimana saja. Apakah maksudnya aku liar? Hahaha. Tentu saja tidak seperti itu.

Menurut hasil penelusuran, bunga Dandelion atau yang biasa dikenal dengan sebutan bunga Randa Tapak, masih termasuk dalam genus Taraxacum dari family Asteraceae. Bunga Dandelion sendiri berasal dari benua Eropa dan Asia. Bunga Dandelion dapat hidup di segala tempat, kemanapun angin yang membawa benih Dandelion terjatuh, maka disitulah Dandelion akan tumbuh. Secara fisik, Dandelion memang tidak menarik. Mungkin karena bentuknya yang aneh dengan tangkainya yang terlihat begitu rapuh.


Sebenarnya Dandelion banyak mengajarkan kepada manusia -- bagi yang mengerti -- tentang arti hidup yang sesungguhnya. Aku akan menjelaskan sedikit makna kehidupan dari bunga Dandelion.

Bunga Dandelion dengan tangkainya yang kecil dan begitu sederhana dapat tumbuh dimana saja, tergantung dimana benihnya terjatuh. Serpihan-serpihan kecil bunganya yang ringan akan sangat mudah terbang terbawa angin dan menyebar kemana pun ia mau, dan pada akhirnya akan tumbuh menjadi bunga yang baru di tempat ia terjatuh.

Bunga Dandelion terlihat sangat rapuh, namun tidak seperti kelihatannya. Bunga ini sangat kuat, sangat indah, dan memiliki arti yang dalam. Kuat menentang angin, terbang tinggi dan menjelajahi angkasa, hingga akhirnya jatuh di suatu tempat dan tumbuh menjadi kehidupan yang baru.

Inilah inti dari kehidupan bunga Dandelion yang menyimpan arti cukup dalam. Terbang tinggi dan menjelajahi angkasa, itu berarti tetap berusaha untuk mengejar dan menggapai cita, cinta, harapan, apapun itu, dan tidak berhenti untuk terus mengejarnya meskipun jalan yang dilewati penuh bebatuan. Dan jatuh di suatu tempat serta tumbuh menjadi kehidupan baru, itu berarti memperbaiki setiap kondisi lingkungan dimana pun kita berada, kita dapat membawa kebahagiaan dimanapun kita berada.

Aku menyukai semangat dari bunga Dandelion ini. Yang dengan rapuhnya mudah terbawa angin, yang dengan liarnya tumbuh dimana saja benihnya terjatuh. Aku sang rapuh tapi semangatku tak pernah padam. Aku terbang bebas setinggi mungkin, sejauh mungkin, sampai angin menghentikan aku, dan ketika aku sampai pada tempat dimana aku harus berpijak, aku akan membangun kehidupan yang baru di sana, dengan kebahagiaan.

Aku liar, aku tidak menarik, aku sangat sederhana, aku begitu rapuh, aku mudah diterbangkan oleh angin. Aku si Dandelion.