Jangan pikir aku tidak terluka.
Wanita lugu yang mencintai dengan bodohnya. Aku? Mungkin aku, mungkin kamu yang juga membaca!
Entah apa yang sebenarnya salah dalam diriku, selalu berusaha mencintai dengan sebaik mungkin, tapi cinta tidak selalu berpihak padaku. Apa yang sebenarnya harus diperbaiki? Cara mencintai? Atau?
Aku sering membaca kalimat motivasi, begitu mudah untuk dibaca namun sulit untuk dipahami. Katanya gagal bukanlah suatu kesalahan, lalu bagaimana dengan gagal berulang kali? Bagaikan sial. Jika saja ada keteledoran berlebihan yang aku lakukan dalam mencintai, aku layak mendapatkan rasa sakit. Rasanya ingin berteriak saja. Aku bukan ingin memberontak, tapi tolong hentikan pertemuan dengan orang yang salah karena semakin hari waktu semakin berharga bagiku. Ini memang bukan soal waktu tapi soal perasaan, waktu mungkin terbuang sia-sia, lalu bagaimana dengan perasaan? Hancur sia-sia? Kita mungkin bisa mencintai dengan cepat, tapi tidak dengan melupakan. Jadi, setelah perasaan hancur dengan sia-sia, diikuti waktu yang terbuang dengan sia-sia hanya untuk sekedar lupa. Lupa akan cinta.
Aku pikir hatiku terbuat dari batu. Aku masih tetap kokoh sampai detik ini, berusaha untuk tetap buta dan tuli seolah tak melihat dan tak mendengar apapun.
Berusaha untuk tetap kuat dengan kebenaran yang ada itu memang benar-benar menyakitkan, aku pikir hanya ada dalam cerita-cerita khayalan, ternyata cinta serumit itu. Jadi begini rasanya, menjadi orang yang baru, menjadi orang yang jauh, dan menjadi orang cadangan. Itulah sebabnya aku tersembunyi dengan sangat rapi.
Cinta, demi dirimu aku berusaha menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Aku sadar, aku tidak boleh seberharap itu karena aku hanyalah yang tersembunyi, tapi kamu tahu bukan sebesar apa harapanku saat ini? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Maaf, tak bermaksud menguji, ada beberapa hal yang mungkin biasa bagimu tapi bukanlah hal yang biasa bagiku. Hanya kamu yang bisa menyelamatkanku dari perasaan ini. Aku memang selugu itu, apa mungkin bodoh di matamu?
Menyesali apa yang telah terjadi dan ingin mengulang waktu? Mana mungkin. Aku mungkin pantas disebut bodoh, terjebak pada satu lubang kelam hanya karena akal yang sementara dibutakan oleh yang katanya disebut cinta. Aku sadar, aku tidak seberharga itu lagi di matamu. Kini, apalah dayaku? Tinggal kamu buang saja.
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku selalu yakin padamu tentang apapun itu. Aku sangat menghargai setiap hal yang kamu lakukan sekecil apapun itu. Aku tahu salah untuk mempercayaimu, tapi itulah caraku mencintaimu dengan tulus. Rasanya pun kamu memang selalu jujur, walaupun itu menyakitkan. Jadi, aku pikir tidak salah aku mempercayaimu.
Meskipun mimpi terkadang menakutiku, aku tidak peduli. Yang aku tahu hanya tetap berusaha memberimu kenyamanan senyaman mungkin. Tetap berusaha meskipun aku tahu peluangku begitu nihil, karena aku tidak mungkin meninggalkanmu. Kamu tahu mengapa bukan? Dan ketika mungkin kamu akan meninggalkanku (baca: ini bukan doa). Apa yang bisa dilakukan oleh wanita sepertiku? Apa yang bisa dilakukan oleh pendosa sepertiku? Menangis? Memandang lemah dengan penuh kekecewaan? Mungkin aku sebut ini hukuman yang pantas aku terima.
Tahukah dirimu? Rasanya baru pernah aku mencintai seseorang sesulit ini. Dulu aku berpikir aku hanyalah yang tersembunyi dari publik, ternyata tidak hanya sekedar itu. Aku mungkin bukan yang kamu harapkan, aku hanya disimpan untuk cadangan atau bahkan bisa menjadi cadangan yang tidak terpakai. Memang sakit, tapi aku cukup punya banyak tenaga untuk berpura-pura kuat. Karena aku sudah terlanjur buta karena cinta, aku sudah terlanjur berada dalam gelap. Silahkan mengujiku sampai hatiku menjadi kering.
Patenkanlah hatimu untuk seorang saja!
Dan saat segalanya akan benar-benar tersingkap, yang aku butuhkan mungkin hanya hati dan mental sekuat baja. LMdBS
