Akhirnya terlintas juga di benak untuk melanjutkan kisah tentang si Bung yang diceritakan pada bagian pertama. Terakhir kali tulisan di Babak Pertama adalah tentang awal bagaimana cintaku digantung.
Benar demikian, komunikasi yang mulai saya bangun bersamanya terus berlanjut bahkan sudah jauh lebih intens. Meskipun terkadang dia menghilang berhari-hari bahkan berminggu-mingggu. Kami memang tidak pernah memiliki kesepakatan untuk membangun sebuah hubungan, tapi kami saling mengungkapkan rasa cinta kami. Komunikasi kami yang berjalan rasa-rasanya sudah seperti orang yang berpacaran.
Pertemuan kedua kami pun terjadi. Waktu itu aku ke kota tempatku berkuliah dulu untuk mengurus beberapa berkas. Aku menyempatkan diri untuk mampir ke kotanya sepulang pengurusan dari kota tujuanku. Kebetulan karena ada adikku juga yang berkuliah di kotanya, sehingga aku bisa sekalian berjumpa dengannya. Pertemuan kedua ini bukanlah seperti pertemuan pertama saat kami bertemu di kota tempat kami melaksanakan kegiatan rohani waktu itu. Pertemuan kali ini berbeda, karena kami sudah saling panggil sayang dan memiliki hubungan jarak jauh yang begitu intens.
Sesampainya aku di sana, rasa deg deg an ku mulai muncul tak karuan. Yah, aku mungkin benar-benar jatuh cinta. Pertemuan kedua kami pun terjadi. Dia mendatangi tempat tinggal adikku, rasanya aku begitu malu, begitu kaku. Benar-benar memalukan. Ahh.. kasmaran. Kami banyak bercerita saat itu, lebih tepatnya dia yang banyak bercerita karena aku selalu tidak mempunyai bahan untuk memulai sebuah percakapan. Kami bertemu beberapa kali saat aku di sana. Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari, tidak cukup lima kali pertemuan. Selain bercerita tentang hal-hal lucu dan hal-hal lainnya, aku juga sempat diajak makan di luar dalam beberapa pertemuan dengannya. Saat diboncengi tak lupa dia memintaku untuk selalu memeluknya dan tidak melepaskan pelukan itu. Wajahku rasanya benar-benar memerah saat itu. Kalian tahu? Aku benar-benar bahagia diperlakukan demikian. Aku sudah lupa akan segala hal. Bahkan aku tidak sempat berpikir bahwa mungkin bukan hanya aku saja yang diperlakukan demikian. Cinta memang benar-benar buta, sangat buta.
Pertemuan terakhir saat itu benar-benar memilukan. Karena hujan yang begitu deras, malam yang semakin larut. Padahal keesokkan paginya aku akan segera kembali pulang ke kotaku. Aku pikir dia tak akan datang. Ternyata salah, dia tetap datang. Malam sekali waktu itu, menabrak cuaca yang buruk diantar oleh kakaknya. Katanya selarut apapun dia pasti akan datang untuk melihatku. Lihatlah bagaimana dia begitu manis memperlakukanku, wanita mana yang tidak jatuh hati. Aku bukan hanya sekedar jatuh hati, tapi aku tenggelam.
Komunikasi kami tetap berjalan dengan baik meskipun aku telah kembali pulang ke kotaku. Tetap intens dalam jarak jauh. Lalu sekali lagi aku berkunjung ke kotanya dan kami kembali bertemu. Pertemuan kali ini benar-benar hangat, karena kami telah memupuk rindu selama berhubungan jarak jauh. Rasa rindu yang begitu dalam kami tumpahkan melalui pertemuan berikut ini. Aku benar-benar sangat merindukannya. Sebelum pertemuan ini, dia sudah jujur akan adanya hubungan bersama orang lain lagi selain denganku. Oleh sebab itu aku merencanakan kedatanganku yang berikut ini karena cinta yang sudah aku punya dan untuk mengenalnya jauh lebih dekat lagi. Aku tidak sedang berusaha merusak hubungannya dengan orang lain tersebut, tapi karena hubungan mereka sama dasarnya denganku yaitu tanpa pernyataan sedang berpacaran, maka aku merasa memiliki posisi yang sama dengan wanita itu, dan karena lelaki ini memberikanku peluang, mengapa aku harus menyerah? Lagi pula hubungannya dengan wanita lain itu adalah hubungan yang sulit untuk direstui oleh keluarga mereka, karena ada alasan tertentu yang tidak bisa aku tulis di sini. Dan.. aku begitu mudah percaya. Sebenarnya apa yang dikatakan olehnya adalah suatu kebenaran, tapi sayangnya itu belum semua. Ada banyak hal yang masih dia sembunyikan.
Aku berusaha tetap dekat dan tetap memiliki hubungan yang intens dengannya. Sebagaimana usahaku untuk kembali berkunjung ke kotanya. Tapi dipertemuan ini kami hanya sekali bertemu, tidak seperti saat pertama aku berkunjung ke kotanya, dia tidak sempat datang melihatku sebelum aku berangkat kembali ke kotaku. Walaupun demikian komunikasi kami tetap berjalan, meskipun sudah mulai ada kemarahan di dalamnya, saat di kotaku, aku mulai berpikir untuk pindah kerja ke kotanya. Sebenarnya ini bukan hanya sekedar agar aku dekat dengannya. Ini memang impianku. Impian untuk bekerja di ibukota provinsi sejak dulu, dan itu adalah kota tempat tinggalnya. Hal itupun terwujud, aku berhasil pindah. Menunggu sekitaran dua bulan lalu dipanggil dan bekerja, aku benar-benar senang. Apalagi tempat kerja ini merupakan impianku sejak dulu. Pertemuanku dengannya baru sekali semenjak aku pindah ke kotanya. Itupun setelah satu bulan aku menunggunya. Aku mulai merasa bahwa hubungan kami sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan. Awalnya dia begitu rajin mengontakku saat tahu aku sedang datang ke kotanya. Tapi hanya sebatas itu. Yang sekalipun, mungkin dia juga datang dengan terpaksa atau hanya kebetulan. Kami bertemu, dan aku melihat ada begitu banyak hal yang dia sembunyikan dariku. Semakin banyak aku rasa. Dari tingkahnya, dari matanya, kehadirannya pun tidak membuatku merasa seperti dulu. Ketika aku ingin menyerah, dia seperti terus ingin maju. Dan ketika aku ingin maju, dia seperti ingin menyerah.
Tapi tahukah kalian? Lelaki inilah yang masih aku cintai sampai dengan saat ini. Karena sekarang dia adalah teman hidupku. Mengapa dia bisa menjadi teman hidupku padahal hubungan kami begitu rumit? Jawabannya hanya satu, atas kehendak-Nya.
Translate
Jumat, 24 November 2017
Senin, 13 November 2017
Kemunafikan
Jangan buta karena cinta. Kamu mungkin membenci banyak orang hanya karena cinta yang membutakanmu. Hingga yang salah kamu benarkan, dan yang tak tahu apa-apa kamu persalahkan.
Hidup menjadi lebih mudah ketika kita merasa bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak kita sukai di dunia ini. Kalau saya diberikan pilihan, saya juga bisa berbalik memusuhimu. Tapi saya tidak ingin mengacaukan hidup saya hanya karena membenci orang yang membenci saya. Tugas saya hanya sebatas mengasihimu, walaupun sampai dengan saat ini kamu masih menganggap saya perusak.
Ingat orang berpendidikan, informasi yang baik hanya benar-benar real jika kamu tidak hanya mendengar dari satu pihak, apalagi pihak yang kamu dengarkan adalah yang kamu cinta. Karena cinta itu buta, kamu mungkin juga bodoh. Karena jika memang dia baik, dia tidak akan membiarkan semua terjadi seperti sekarang ini. Nah, sekarang siapa yang brengsek? Jangan kamu hanya terus membelanya. Kamu tidak menyadari bahwa kita sekaum. Kamu pikir hanya ada kamu dan aku saja? Ternyata kamu jauh lebih bodoh dari padaku. Masih banyak yang lainnya, yang tidak kamu tahu.
Kalaupun kamu ingin tetap menganggapku sebagai musuh, itu tidak menjadi masalah. Toh hati kamu juga yang rusak karena membenci orang lain, dan orang yang kamu benci dan kamu anggap salah juga belum tentu seperti apa yang kamu kira.
Memang benar, setinggi-tingginya kepandaian seseorang, sehebat-hebatnya pengalaman seseorang, tetap saja menjadi bodoh dan tunduk pada hal yang membuatnya jatuh cinta. Dan itu kamu. Bahkan kamu sadar akan sebuah kenyataan yang sudah jelas-jelas di depan mata, tapi kamu tetap terbuai. Jangan terlalu munafik, berbicara tentang keikhlasan, kepasrahan, dan mendoakan. Sudah terlalu biasa. Ngomong itu memang lebih mudah dari pada melaksanakan. Toh sekarang kamu sedang asik menjilat kembali ludah yang sudah kamu buang.
Ikhlas bukan seperti ini, kamu berbicara lalu melakukan yang lain di belakang. Pasrah bukan seperti ini, kamu masih saja berusaha dengan menanggapi. Mendoakan bukan seperti ini, kamu mendoakan yang terbaik, dan kamu sendirilah yang sedang menghancurkan apa yang kamu doakan. Apa itu bukan munafik? Sekarang siapa yang gila?
Mungkin saat ini kamu tertawa karena melihatku dibodohi. Tak mengapa. Mungkin kamu belum puas dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu. Aku tidak ingin mendoakan keburukkan untuk orang lain. Tapi aku berharap Tuhan tidak buta untuk melihat kelakuanmu di belakangku. Sadarlah untuk tidak menjadi perusak, karena kamu pun sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dirusak. Tapi jika kamu ingin menjadikanku tempat pembalasan, silahkan saja. Tuhan Maha Melihat. Tuhan tahu bahwa niat saya bukan merusak, hal ini juga tidak akan terjadi jika saya tidak diberikan peluang darinya. Dan segala yang terjadi saat ini bukan hanya karena keinginan saya, tapi juga keinginannya. Sadarilah itu.
Hidup menjadi lebih mudah ketika kita merasa bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak kita sukai di dunia ini. Kalau saya diberikan pilihan, saya juga bisa berbalik memusuhimu. Tapi saya tidak ingin mengacaukan hidup saya hanya karena membenci orang yang membenci saya. Tugas saya hanya sebatas mengasihimu, walaupun sampai dengan saat ini kamu masih menganggap saya perusak.
Ingat orang berpendidikan, informasi yang baik hanya benar-benar real jika kamu tidak hanya mendengar dari satu pihak, apalagi pihak yang kamu dengarkan adalah yang kamu cinta. Karena cinta itu buta, kamu mungkin juga bodoh. Karena jika memang dia baik, dia tidak akan membiarkan semua terjadi seperti sekarang ini. Nah, sekarang siapa yang brengsek? Jangan kamu hanya terus membelanya. Kamu tidak menyadari bahwa kita sekaum. Kamu pikir hanya ada kamu dan aku saja? Ternyata kamu jauh lebih bodoh dari padaku. Masih banyak yang lainnya, yang tidak kamu tahu.
Kalaupun kamu ingin tetap menganggapku sebagai musuh, itu tidak menjadi masalah. Toh hati kamu juga yang rusak karena membenci orang lain, dan orang yang kamu benci dan kamu anggap salah juga belum tentu seperti apa yang kamu kira.
Memang benar, setinggi-tingginya kepandaian seseorang, sehebat-hebatnya pengalaman seseorang, tetap saja menjadi bodoh dan tunduk pada hal yang membuatnya jatuh cinta. Dan itu kamu. Bahkan kamu sadar akan sebuah kenyataan yang sudah jelas-jelas di depan mata, tapi kamu tetap terbuai. Jangan terlalu munafik, berbicara tentang keikhlasan, kepasrahan, dan mendoakan. Sudah terlalu biasa. Ngomong itu memang lebih mudah dari pada melaksanakan. Toh sekarang kamu sedang asik menjilat kembali ludah yang sudah kamu buang.
Ikhlas bukan seperti ini, kamu berbicara lalu melakukan yang lain di belakang. Pasrah bukan seperti ini, kamu masih saja berusaha dengan menanggapi. Mendoakan bukan seperti ini, kamu mendoakan yang terbaik, dan kamu sendirilah yang sedang menghancurkan apa yang kamu doakan. Apa itu bukan munafik? Sekarang siapa yang gila?
Mungkin saat ini kamu tertawa karena melihatku dibodohi. Tak mengapa. Mungkin kamu belum puas dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu. Aku tidak ingin mendoakan keburukkan untuk orang lain. Tapi aku berharap Tuhan tidak buta untuk melihat kelakuanmu di belakangku. Sadarlah untuk tidak menjadi perusak, karena kamu pun sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dirusak. Tapi jika kamu ingin menjadikanku tempat pembalasan, silahkan saja. Tuhan Maha Melihat. Tuhan tahu bahwa niat saya bukan merusak, hal ini juga tidak akan terjadi jika saya tidak diberikan peluang darinya. Dan segala yang terjadi saat ini bukan hanya karena keinginan saya, tapi juga keinginannya. Sadarilah itu.
Sabtu, 11 November 2017
Belum Jadi Pemenang
Aku tidak bisa terus menerus menyembunyikan perasaanku.
Aku sadar bahwa apapun yang terjadi, aku tetaplah sang pemilik, tapi hanya sebatas apa yang terlihat. Mata bisa melihat itu, tapi tidak dengan apa yang terjadi di dalam.
Berawal dari suatu keharusan yang membuat segala sesuatunya harus terjadi. Apa ini yang disebut takdir? Takdir yang begitu menyiksa banyak orang. Jangan salahkan aku, bukan aku yang memulainya. Aku hanyalah salah satu dari kalian, bahkan salah satu yang tidak terfokuskan olehnya. Hanya saja takdir Tuhan yang mengijinkan aku bersamanya. Aku mungkin bahagia seperti yang kalian lihat, tapi sebenarnya aku benar-benar menyedihkan.
Apakah ini hukuman untukku? Apa kalian mengutukku? Aku tahu kalian orang yang baik, apapun yang kalian lakukan sampai dengan saat ini sama sekali tidak berniat menyakitiku. Tapi tetap saja, aku sedih. Sedih karena keadaan menjadi serumit ini. Maafkan aku wanita.
Saat ini aku hanya bisa menyaksikan tanpa memberontak. Terdengar bodoh tapi itulah yang terjadi. Aku hanya bisa melihat, lalu diam-diam bersembunyi dan tersedu-sedu. Karena aku sadar, aku tidak bisa banyak meminta. Apa yang sekarang telah terjadi seharusnya sudah jauh lebih dari cukup untukku. Menyedihkan bukan? Lebih menyedihkan mana, mencintai tanpa memiliki? Atau memiliki tanpa dicintai?
Kalian sedih, aku jauh lebih menyedihkan. Kalian diam-diam bermain di belakangku yang sebenarnya sudah aku ketahui, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kalian bukan hanya sekedar cinta tapi juga memiliki. Memiliki hati dan jiwanya. Bukankah itu jauh lebih menyedihkan bagiku?
Aku hanya bisa pasrah dan terus berusaha memenangkannya. Jadi saat ini aku belum menjadi pemenangnya.
Aku harus selalu tersenyum di depan orang-orang, seolah-olah aku baik-baik saja. Bukan hanya itu, bahkan di depannya pun aku harus berpura-pura. Kehidupan macam apa yang sedang aku jalani ini? Hanya aku dan Tuhan yang tahu kebenaran hatiku. Seperti bermain peran, seumur hidupkah harus aku lakoni?
Aku tetap mengasihinya, bagaimanapun perilakunya. Aku ingin memahaminya sesakit apapun pengaruhnya untukku. Demi janji yang aku buat, aku akan merawatnya dengan sepenuh hatiku. Aku mendoakannya untuk bisa berbenah, sebaik-baiknya, setulus-tulusnya. Aku tidak ingin hal ini hanya menjadi urusannya dengan Tuhan. Aku tidak ingin Tuhan menghukumnya, separah apapun dia bertindak. Aku ingin selalu ada pengampunan baginya. Dan juga bagi kalian, aku mohon berhentilah. Kalian sekaum denganku, tentu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Aku tahu kalian terluka, tapi kalian bisa bangkit dengan perlahan. Namun aku, aku harus berjuang sendiri atas apa yang telah terjadi saat ini. Aku mendoakan kebaikan untuk kalian.
Aku sadar bahwa apapun yang terjadi, aku tetaplah sang pemilik, tapi hanya sebatas apa yang terlihat. Mata bisa melihat itu, tapi tidak dengan apa yang terjadi di dalam.
Berawal dari suatu keharusan yang membuat segala sesuatunya harus terjadi. Apa ini yang disebut takdir? Takdir yang begitu menyiksa banyak orang. Jangan salahkan aku, bukan aku yang memulainya. Aku hanyalah salah satu dari kalian, bahkan salah satu yang tidak terfokuskan olehnya. Hanya saja takdir Tuhan yang mengijinkan aku bersamanya. Aku mungkin bahagia seperti yang kalian lihat, tapi sebenarnya aku benar-benar menyedihkan.
Apakah ini hukuman untukku? Apa kalian mengutukku? Aku tahu kalian orang yang baik, apapun yang kalian lakukan sampai dengan saat ini sama sekali tidak berniat menyakitiku. Tapi tetap saja, aku sedih. Sedih karena keadaan menjadi serumit ini. Maafkan aku wanita.
Saat ini aku hanya bisa menyaksikan tanpa memberontak. Terdengar bodoh tapi itulah yang terjadi. Aku hanya bisa melihat, lalu diam-diam bersembunyi dan tersedu-sedu. Karena aku sadar, aku tidak bisa banyak meminta. Apa yang sekarang telah terjadi seharusnya sudah jauh lebih dari cukup untukku. Menyedihkan bukan? Lebih menyedihkan mana, mencintai tanpa memiliki? Atau memiliki tanpa dicintai?
Kalian sedih, aku jauh lebih menyedihkan. Kalian diam-diam bermain di belakangku yang sebenarnya sudah aku ketahui, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kalian bukan hanya sekedar cinta tapi juga memiliki. Memiliki hati dan jiwanya. Bukankah itu jauh lebih menyedihkan bagiku?
Aku hanya bisa pasrah dan terus berusaha memenangkannya. Jadi saat ini aku belum menjadi pemenangnya.
Aku harus selalu tersenyum di depan orang-orang, seolah-olah aku baik-baik saja. Bukan hanya itu, bahkan di depannya pun aku harus berpura-pura. Kehidupan macam apa yang sedang aku jalani ini? Hanya aku dan Tuhan yang tahu kebenaran hatiku. Seperti bermain peran, seumur hidupkah harus aku lakoni?
Aku tetap mengasihinya, bagaimanapun perilakunya. Aku ingin memahaminya sesakit apapun pengaruhnya untukku. Demi janji yang aku buat, aku akan merawatnya dengan sepenuh hatiku. Aku mendoakannya untuk bisa berbenah, sebaik-baiknya, setulus-tulusnya. Aku tidak ingin hal ini hanya menjadi urusannya dengan Tuhan. Aku tidak ingin Tuhan menghukumnya, separah apapun dia bertindak. Aku ingin selalu ada pengampunan baginya. Dan juga bagi kalian, aku mohon berhentilah. Kalian sekaum denganku, tentu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Aku tahu kalian terluka, tapi kalian bisa bangkit dengan perlahan. Namun aku, aku harus berjuang sendiri atas apa yang telah terjadi saat ini. Aku mendoakan kebaikan untuk kalian.
Sabtu, 07 Oktober 2017
Melepas Impian
Dulu mencintaimu begitu mudah bagiku, tapi tidak setelah aku tahu bahwa itu menyakiti banyak hati. Aku ingin selalu berpura-pura kuat di depanmu, seolah aku tak tahu apa-apa dan tak mau tahu apapun. Tapi tidak seperti yang kau lihat, aku tersiksa dengan kondisi yang mengharuskanku untuk terus maju memperjuangkanmu dengan keegoisanku. Bukan egois, aku pun terpaksa harus seperti ini. Kau tahu mengapa.
Maafkan aku hati-hati yang tersakiti, jika saja aku lebih tahu sejak awal bahwa kalian begitu banyak, kalian jauh lebih hebat dariku, aku sudah lebih dulu sadar dan mundur. Tapi semua tetap berjalan dan dia tetap memberi ruang. Cinta membuatku tetap bertahan di atas kebodohanku. Aku pikir bisa memenangkannya. Mungkin sekarang aku menang, tapi bukan kemenangan seperti ini yang aku harapkan. Aku mungkin mendapatkannya, tapi entah hatinya untuk siapa. Apalah dayaku, hanya bisa berpasrah dengan keadaan.
Rasanya ingin aku berlari menjauhimu orang yang begitu aku cintai. Mungkin aku akan bermain peran seumur hidupku demi kehormatan. Bahagia memang tak pantas aku miliki, aku bahkan membenci diriku sendiri.
Banyak hal yang mungkin dia korbankan, mungkin hati dan perasaan. Lalu aku? Aku melepas impian yang sejak dulu aku dambakan, meski impian itu telah menjadi nyata, aku tetap tidak bisa mempertahankannya. Aku harus melepaskannya demi hal lain. Rasanya begitu berat, aku berakting kuat untuk diriku sendiri, yang sebenarnya tangisan penyesalan terus mengalir di hatiku. Terkadang aku mengingat bagaimana sulitnya aku meraih impian ini dengan kedua tanganku, tapi aku juga yang melepaskannya dengan kedua tanganku. Seperti orang yang tak tahu bersyukur.
Aku mohon, jangan nilai aku sesadis itu, ada hal yang harus aku jadikan prioritas saat ini. Ini adalah keputusan yang tepat walau terlihat bodoh bagi sebagian besar orang, karena mereka tidak tahu tentangku dan keadaanku.
Saat ini aku tidak sebahagia seperti yang mereka kira. Aku mungkin sudah hampir memiliki seseorang di sampingku, tapi dia tidak mengenalku. Aku benar-benar merasa seorang diri, aku harus berbohong pada setiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Mereka yang aku hormati, demi kehormatan mereka aku berpura-pura kuat dan baik-baik saja. Demi mereka yang aku kenal, aku berpura-pura dengan beribu alasan. Dan demi dia yang aku cintai, aku berpura-pura bahagia dengan kepalsuan yang dia ciptakan. Maafkan aku, aku tidak setegar yang kamu pikirkan. Aku akan membiarkan angin membawaku kemana saja aku harus pergi, termasuk denganmu. Tolong jangan salahkan aku, aku tidak mengerti ini takdir seperti apa. Bukan aku yang menakdirkannya. Tolong maafkan aku, mungkin hidupku akan terus berpura-pura. Orang melihatku dengan iri, tapi mereka tidak tahu kebenaran perasaan yang aku pendam, bahkan orang yang aku cintai pun tidak.
Sekali lagi maafkan aku luka-luka yang bertebaran, maafkan aku yang tidak mengetahui keberadaan kalian. Dan maafkan aku kasih, atas keadaan ini.
Maafkan aku hati-hati yang tersakiti, jika saja aku lebih tahu sejak awal bahwa kalian begitu banyak, kalian jauh lebih hebat dariku, aku sudah lebih dulu sadar dan mundur. Tapi semua tetap berjalan dan dia tetap memberi ruang. Cinta membuatku tetap bertahan di atas kebodohanku. Aku pikir bisa memenangkannya. Mungkin sekarang aku menang, tapi bukan kemenangan seperti ini yang aku harapkan. Aku mungkin mendapatkannya, tapi entah hatinya untuk siapa. Apalah dayaku, hanya bisa berpasrah dengan keadaan.
Rasanya ingin aku berlari menjauhimu orang yang begitu aku cintai. Mungkin aku akan bermain peran seumur hidupku demi kehormatan. Bahagia memang tak pantas aku miliki, aku bahkan membenci diriku sendiri.
Banyak hal yang mungkin dia korbankan, mungkin hati dan perasaan. Lalu aku? Aku melepas impian yang sejak dulu aku dambakan, meski impian itu telah menjadi nyata, aku tetap tidak bisa mempertahankannya. Aku harus melepaskannya demi hal lain. Rasanya begitu berat, aku berakting kuat untuk diriku sendiri, yang sebenarnya tangisan penyesalan terus mengalir di hatiku. Terkadang aku mengingat bagaimana sulitnya aku meraih impian ini dengan kedua tanganku, tapi aku juga yang melepaskannya dengan kedua tanganku. Seperti orang yang tak tahu bersyukur.
Aku mohon, jangan nilai aku sesadis itu, ada hal yang harus aku jadikan prioritas saat ini. Ini adalah keputusan yang tepat walau terlihat bodoh bagi sebagian besar orang, karena mereka tidak tahu tentangku dan keadaanku.
Saat ini aku tidak sebahagia seperti yang mereka kira. Aku mungkin sudah hampir memiliki seseorang di sampingku, tapi dia tidak mengenalku. Aku benar-benar merasa seorang diri, aku harus berbohong pada setiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Mereka yang aku hormati, demi kehormatan mereka aku berpura-pura kuat dan baik-baik saja. Demi mereka yang aku kenal, aku berpura-pura dengan beribu alasan. Dan demi dia yang aku cintai, aku berpura-pura bahagia dengan kepalsuan yang dia ciptakan. Maafkan aku, aku tidak setegar yang kamu pikirkan. Aku akan membiarkan angin membawaku kemana saja aku harus pergi, termasuk denganmu. Tolong jangan salahkan aku, aku tidak mengerti ini takdir seperti apa. Bukan aku yang menakdirkannya. Tolong maafkan aku, mungkin hidupku akan terus berpura-pura. Orang melihatku dengan iri, tapi mereka tidak tahu kebenaran perasaan yang aku pendam, bahkan orang yang aku cintai pun tidak.
Sekali lagi maafkan aku luka-luka yang bertebaran, maafkan aku yang tidak mengetahui keberadaan kalian. Dan maafkan aku kasih, atas keadaan ini.
Sabtu, 03 Juni 2017
Bukan Pengecut
Melakukan apa yang tidak aku sukai mungkin lebih sering aku lakukan, terkadang aku sadar, dan juga tidak sadar saat melakukannya. Lebih banyak tidak sadar sih dari pada sadar. Aku seorang manusia yang sebenarnya hidup di bawah kendali "Apa kata orang", dan inilah yang membuatku takut untuk melakukan hal berbeda, bahkan takut untuk mengikuti kata hatiku sendiri.
Menjadi seseorang yang sering tampil diberbagai perlombaan nyanyi solo sebenarnya bukanlah gayaku. Aku seorang pemalu yang bahkan berbicara dengan satu orang saja rasanya benar-benar menakutkan. Aku selalu menjauhi keramaian, aku selalu menyendiri, apa yang ada di dalam otakku sebenarnya memerintahkanku untuk terlihat perfect karena aku seorang yang melankolis. Dan salah satu ciri seorang melankolis adalah berusaha terlihat sempurna.
Mama, sosok yang selalu mendukungku untuk ikut berbagai perlombaan nyanyi. Sebenarnya bukan mendukung, lebih tepatnya menyuruh. Kesal dengan itu aku tidak pernah menolak perintah Mama yang menjadikanku seperti boneka menurut kata adik laki-lakiku. Tapi aku tetap merasa ingin menjadi anak yang baik, dengan mengikuti semua yang Mama inginkan. Sebenarnya aku juga mencintai seni, tapi seni yang aku senangi saat itu adalah menggambar. Dulu yang paling sering aku gambar adalah lapisan kulit manusia, segala sesuatu yang berbau biologi, entah itu sel, kromosom, pembedahan katak, dan lainnya.
Mengikuti perlombaan nyanyi akhirnya membuat aku mulai mencintai musik. Gitar adalah alat musik pertama yang bisa kumainkan, tepatnya waktu kelas 2 SMP. Itu semua juga didukung oleh guru kesenianku yang bagus. Selanjutnya aku mempelajari ukulele, organ tunggal sampai dengan piano. Walaupun otodidakku sebenarnya ngasal, aku selalu dianugerahi dekat dengan beberapa pria yang pintar dalam musik. Jadi bukan hanya sekedar cinta, aku juga mencuri ilmu. Hehehe.
Walaupun aku sering dibilang boneka Mama oleh adikku, tapi aku selalu merasa beruntung dengan keadaan ini. Berkat doping dari Mama aku jadi bisa bernyanyi dan memainkan alat musik. Tentang musik, ini tidak berakhir sampai di situ, aku masih ingin belajar alat musik lain, hanya saja waktuku yang sekarang sulit untuk diatur karena pekerjaan profesiku memakai shift dan jadwal yang tidak menentu. Meskipun begitu, aku tidak pernah berhenti untuk terus belajar.
Beranjak dari hobi, kehidupan pendidikanku selalu berjalan mulus. Walaupun jurusan yang aku ambil saat kuliah bukanlah cita-citaku dahulu, waktu telah membuatku mulai mencintai profesi ini. Aku adalah sosok anak yang tidak ingin mencari masalah, sehingga semuanya berjalan lancar-lancar saja sampai aku memperoleh gelar S1 dan profesi. Tentunya itu membuat kedua orang tuaku bangga, lulus pada waktunya sekaligus memperoleh cum laude pada kedua jenjang. Sebenarnya harapanku selanjutnya adalah tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, akan tetapi orang tua berharap agar aku berpenghasilan dulu. Akhirnya dengan berat hati kuputuskan untuk pulang kembali ke tempat kelahiranku dan mengabdi di sana. Yah, dan aku bekerja seperti apa yang orang tuaku inginkan, tapi sayangnya aku hanya seorang tenaga magang. Tenaga sukarela, tanpa bayaran.
Pada awalnya aku menjalankan pekerjaanku itu dengan tulus sampai akhirnya aku merasa bahwa menjadi seseorang yang tulus itu tidak mudah. Aku dihadapkan dengan para pekerja lain yang malas-malasan, padahal mereka diupah. Lalu aku dan beberapa temanku yang adalah tenaga sukarela harus bekerja dengan penuh tanggung jawab. Lama sudah berjalan kurang lebih hampir 7 bulan, aku mulai tidak mencintai apa yang aku kerjakan, aku bosan, dan rasanya mau gila. Hanya keluh kesah yang selalu aku bawa saat pulang ke rumah. Aku mencoba berbicara tentang mimpi-mimpiku yang sejak dulu takut aku kemukakan, aku berbicara tentang angan-anganku yang ingin aku gapai. Dan akhirnya orang tuaku mulai memahami dan mengijinkanku melakukan apapun yang menurutku baik untuk dilakukan. Dengan ijin di tempatku bekerja saat ini, aku keluar kota dan memasukkan lamaran kerja di tempat lain. Sudah 2 minggu ijinku berjalan dan itu meresahkan para pekerja yang lain di tempatku bekerja, mereka terus menghubungiku untuk menanyakan kepastian kapan aku kembali. Niat hatiku sebelum berangkat sebenarnya adalah untuk resign dari sana, tapi aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menyampaikannya.
Sampai di sini aku begitu dilema, aku memang belum mendapat panggilan dari beberapa tempat ku melamar pekerjaan. Tapi aku yakin bahwa aku akan segera dipanggil. Aku terus belajar setiap hari, mengulang-ngulang pelajaran yang aku dapatkan dulu, dan terus belajar.
Tapi mereka, para pekerja itu terus menghubungiku. Apa aku harus segera kembali? Ataukah mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku ingin resign? Aku benar-benar dilema. Aku takut disangka egois, aku takut dibilang tidak bersyukur. Aku banyak meminta saran dari beberapa teman yang aku percaya. Ada yang menyarankan untuk tetap bersabar sampai mendapatkan pekerjaan yang baru, ada juga yang bilang disayangkan karena belum mendapatkan pekerjaan baru, dan juga ada yang prihatin karena ternyata aku hanya tenaga magang. Itu semakin membuatku pusing, karena kata hatiku memang benar-benar ingin resign, tapi kembali lagi aku takut dengan pendapat orang nantinya.
Aku mulai coba membayangkan jika aku kembali dan bekerja seperti itu lagi, ahh.. rasanya aku sudah tidak mau lagi. Lebih baik aku tinggal di rumah. Perasaan dilema ini membuatku benar-benar sakit kepala. Rasanya aku ingin berteriak dengan keras. Aku mulai capek dengan apa kata orang, aku mulai capek jika segala sesuatu yang ingin aku lakukan selalu mempertimbangkan pemikiran orang lain. Sebenarnya untuk apa aku hidup seperti itu? Bukan seperti apa yang aku inginkan, seperti bukan aku.
Ada seorang teman yang memberi wejangan padaku, aku memintanya untuk membayangkan jika dia ada di posisiku. Dengan lantang dia menjawab "Sebaiknya kamu resign saja". Lalu aku sampaikan risaunya niatku untuk resign, aku takut dibilang egois dan tidak bersyukur. Dan dia merespon dengan kalimat-kalimat yang membuatku merasa yakin.
"Tanyakanlah pada dirimu sendiri. Namun jika saya berada di posisimu, saya akan memilih untuk keluar, karena untuk apa kita bekerja jika tidak digaji? Sedangkan ilmu yang kita dapatkan tidak gratis. Apalagi diusia segini kamu sudah harus berpenghasilan. Silahkan perkuat pilihanmu dengan berdoa meminta petunjuk, dan selanjutnya ikuti kata hatimu. Kalau saya sih selalu mengikuti kata hati saya sejauh ini. Kalau takut dengan perkataan orang soal egois dan tidak bersyukur, saya rasa itu tidak jadi pengaruh juga. Karena setelah resign kamu akan tetap mencari pekerjaan sesuai dengan keterampilanmu, semua orang pasti akan bersyukur karena sudah punya pekerjaan. Tapi yang jadi masalah kamu tidak digaji. Apapun pendapat orang tidak perlu diterima mentah-mentah, harus kita olah dulu. Kalau mereka ada di posisimu, mereka juga pasti sulit untuk menerima. Jadi keputusanmu untuk resign hanya kamu yang tahu dan kamu yang rasakan. Jadi sebaiknya jangan pedulikan omongan orang".
Aku berpikir. Mungkin inilah saatnya aku melakukan apa yang ingin aku lakukan, sudah cukup aku hidup di dalam kendali "Apa kata orang". Terima kasih kawan, kalimatmu membuat aku jauh lebih berani mengambil keputusan. Aku harus buktikan bahwa keputusanku adalah yang terbaik untuk diriku sendiri. Aku ingin melakukan apa yang aku suka, bukan yang orang lain suka. Aku ingin mengikuti kata hatiku, bukan perkataan orang lain. Karena aku bukan pengecut. BSB
Menjadi seseorang yang sering tampil diberbagai perlombaan nyanyi solo sebenarnya bukanlah gayaku. Aku seorang pemalu yang bahkan berbicara dengan satu orang saja rasanya benar-benar menakutkan. Aku selalu menjauhi keramaian, aku selalu menyendiri, apa yang ada di dalam otakku sebenarnya memerintahkanku untuk terlihat perfect karena aku seorang yang melankolis. Dan salah satu ciri seorang melankolis adalah berusaha terlihat sempurna.
Mama, sosok yang selalu mendukungku untuk ikut berbagai perlombaan nyanyi. Sebenarnya bukan mendukung, lebih tepatnya menyuruh. Kesal dengan itu aku tidak pernah menolak perintah Mama yang menjadikanku seperti boneka menurut kata adik laki-lakiku. Tapi aku tetap merasa ingin menjadi anak yang baik, dengan mengikuti semua yang Mama inginkan. Sebenarnya aku juga mencintai seni, tapi seni yang aku senangi saat itu adalah menggambar. Dulu yang paling sering aku gambar adalah lapisan kulit manusia, segala sesuatu yang berbau biologi, entah itu sel, kromosom, pembedahan katak, dan lainnya.
Mengikuti perlombaan nyanyi akhirnya membuat aku mulai mencintai musik. Gitar adalah alat musik pertama yang bisa kumainkan, tepatnya waktu kelas 2 SMP. Itu semua juga didukung oleh guru kesenianku yang bagus. Selanjutnya aku mempelajari ukulele, organ tunggal sampai dengan piano. Walaupun otodidakku sebenarnya ngasal, aku selalu dianugerahi dekat dengan beberapa pria yang pintar dalam musik. Jadi bukan hanya sekedar cinta, aku juga mencuri ilmu. Hehehe.
Walaupun aku sering dibilang boneka Mama oleh adikku, tapi aku selalu merasa beruntung dengan keadaan ini. Berkat doping dari Mama aku jadi bisa bernyanyi dan memainkan alat musik. Tentang musik, ini tidak berakhir sampai di situ, aku masih ingin belajar alat musik lain, hanya saja waktuku yang sekarang sulit untuk diatur karena pekerjaan profesiku memakai shift dan jadwal yang tidak menentu. Meskipun begitu, aku tidak pernah berhenti untuk terus belajar.
Beranjak dari hobi, kehidupan pendidikanku selalu berjalan mulus. Walaupun jurusan yang aku ambil saat kuliah bukanlah cita-citaku dahulu, waktu telah membuatku mulai mencintai profesi ini. Aku adalah sosok anak yang tidak ingin mencari masalah, sehingga semuanya berjalan lancar-lancar saja sampai aku memperoleh gelar S1 dan profesi. Tentunya itu membuat kedua orang tuaku bangga, lulus pada waktunya sekaligus memperoleh cum laude pada kedua jenjang. Sebenarnya harapanku selanjutnya adalah tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, akan tetapi orang tua berharap agar aku berpenghasilan dulu. Akhirnya dengan berat hati kuputuskan untuk pulang kembali ke tempat kelahiranku dan mengabdi di sana. Yah, dan aku bekerja seperti apa yang orang tuaku inginkan, tapi sayangnya aku hanya seorang tenaga magang. Tenaga sukarela, tanpa bayaran.
Pada awalnya aku menjalankan pekerjaanku itu dengan tulus sampai akhirnya aku merasa bahwa menjadi seseorang yang tulus itu tidak mudah. Aku dihadapkan dengan para pekerja lain yang malas-malasan, padahal mereka diupah. Lalu aku dan beberapa temanku yang adalah tenaga sukarela harus bekerja dengan penuh tanggung jawab. Lama sudah berjalan kurang lebih hampir 7 bulan, aku mulai tidak mencintai apa yang aku kerjakan, aku bosan, dan rasanya mau gila. Hanya keluh kesah yang selalu aku bawa saat pulang ke rumah. Aku mencoba berbicara tentang mimpi-mimpiku yang sejak dulu takut aku kemukakan, aku berbicara tentang angan-anganku yang ingin aku gapai. Dan akhirnya orang tuaku mulai memahami dan mengijinkanku melakukan apapun yang menurutku baik untuk dilakukan. Dengan ijin di tempatku bekerja saat ini, aku keluar kota dan memasukkan lamaran kerja di tempat lain. Sudah 2 minggu ijinku berjalan dan itu meresahkan para pekerja yang lain di tempatku bekerja, mereka terus menghubungiku untuk menanyakan kepastian kapan aku kembali. Niat hatiku sebelum berangkat sebenarnya adalah untuk resign dari sana, tapi aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menyampaikannya.
Sampai di sini aku begitu dilema, aku memang belum mendapat panggilan dari beberapa tempat ku melamar pekerjaan. Tapi aku yakin bahwa aku akan segera dipanggil. Aku terus belajar setiap hari, mengulang-ngulang pelajaran yang aku dapatkan dulu, dan terus belajar.
Tapi mereka, para pekerja itu terus menghubungiku. Apa aku harus segera kembali? Ataukah mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku ingin resign? Aku benar-benar dilema. Aku takut disangka egois, aku takut dibilang tidak bersyukur. Aku banyak meminta saran dari beberapa teman yang aku percaya. Ada yang menyarankan untuk tetap bersabar sampai mendapatkan pekerjaan yang baru, ada juga yang bilang disayangkan karena belum mendapatkan pekerjaan baru, dan juga ada yang prihatin karena ternyata aku hanya tenaga magang. Itu semakin membuatku pusing, karena kata hatiku memang benar-benar ingin resign, tapi kembali lagi aku takut dengan pendapat orang nantinya.
Aku mulai coba membayangkan jika aku kembali dan bekerja seperti itu lagi, ahh.. rasanya aku sudah tidak mau lagi. Lebih baik aku tinggal di rumah. Perasaan dilema ini membuatku benar-benar sakit kepala. Rasanya aku ingin berteriak dengan keras. Aku mulai capek dengan apa kata orang, aku mulai capek jika segala sesuatu yang ingin aku lakukan selalu mempertimbangkan pemikiran orang lain. Sebenarnya untuk apa aku hidup seperti itu? Bukan seperti apa yang aku inginkan, seperti bukan aku.
Ada seorang teman yang memberi wejangan padaku, aku memintanya untuk membayangkan jika dia ada di posisiku. Dengan lantang dia menjawab "Sebaiknya kamu resign saja". Lalu aku sampaikan risaunya niatku untuk resign, aku takut dibilang egois dan tidak bersyukur. Dan dia merespon dengan kalimat-kalimat yang membuatku merasa yakin.
"Tanyakanlah pada dirimu sendiri. Namun jika saya berada di posisimu, saya akan memilih untuk keluar, karena untuk apa kita bekerja jika tidak digaji? Sedangkan ilmu yang kita dapatkan tidak gratis. Apalagi diusia segini kamu sudah harus berpenghasilan. Silahkan perkuat pilihanmu dengan berdoa meminta petunjuk, dan selanjutnya ikuti kata hatimu. Kalau saya sih selalu mengikuti kata hati saya sejauh ini. Kalau takut dengan perkataan orang soal egois dan tidak bersyukur, saya rasa itu tidak jadi pengaruh juga. Karena setelah resign kamu akan tetap mencari pekerjaan sesuai dengan keterampilanmu, semua orang pasti akan bersyukur karena sudah punya pekerjaan. Tapi yang jadi masalah kamu tidak digaji. Apapun pendapat orang tidak perlu diterima mentah-mentah, harus kita olah dulu. Kalau mereka ada di posisimu, mereka juga pasti sulit untuk menerima. Jadi keputusanmu untuk resign hanya kamu yang tahu dan kamu yang rasakan. Jadi sebaiknya jangan pedulikan omongan orang".
Aku berpikir. Mungkin inilah saatnya aku melakukan apa yang ingin aku lakukan, sudah cukup aku hidup di dalam kendali "Apa kata orang". Terima kasih kawan, kalimatmu membuat aku jauh lebih berani mengambil keputusan. Aku harus buktikan bahwa keputusanku adalah yang terbaik untuk diriku sendiri. Aku ingin melakukan apa yang aku suka, bukan yang orang lain suka. Aku ingin mengikuti kata hatiku, bukan perkataan orang lain. Karena aku bukan pengecut. BSB
Senin, 29 Mei 2017
Si Bung - Babak Pertama
Tadinya bagiku mengenalmu adalah hal terindah yang pernah kualami dalam hidup ini. Kamu bukan hanya sekedar cinta, tapi kamu adalah penghapus masa kelamku yang begitu menyedihkan. Aku tidak pernah bermimpi bisa melupakan orang yang dulu begitu aku sayangi, rasa tak mungkin karena aku telah memberikan seluruh hatiku padanya, tapi kehadiranmu ternyata membuktikan bahwa hatiku masih mampu dicuri oleh orang lain, dan itu kamu. Kamu bukan hanya sekedar menghapus luka lama, tapi kamu adalah cinta yang begitu berarti dalam hidupku kini. Mengapa? Tulisan ini akan menceritakan segala hal tentangmu. Ini adalah kisah yang tidak pernah ingin aku lupakan, dan aku menjadikannya tulisan yang dapat aku baca berulang kali untuk selalu mengingatmu yang kini begitu terasa jauh.
Mengikuti sebuah kegiatan rohani semasa berlibur cukup baik, aku menyempatkan diri mengikuti kegiatan tersebut untuk mengisi waktu luang, tak disangka-sangka kegiatan itulah awal dari perjumpaan kita. Kamu adalah seorang pemain biola. Saat itu aku belum mengenal siapa dirimu, yang aku tahu kamu adalah seorang pemain biola dari ibukota provinsi yang datang bersama kelompok pemuda untuk mengikuti kegiatan rohani yang diadakan di kotaku. Aku pikir kamu memang adalah orang dikotaku, maklum sudah lama aku tidak berbaur dengan kegiatan rohani seperti ini, banyak orang dengan wajah baru yang baru aku kenal saat itu. Dan ternyata kamu memang dari ibukota, bukan dari kotaku.
Aku hanya melihat seperti itu, lalu sudah. Tak ada sedikitpun perasaan tertarik saat itu. Namun karena aku bertanya pada temanku tentang siapa kamu, mereka mulai berpikir bahwa aku tertarik, dan selalu menjadikan itu candaan membuatku malu-malu. Pada dasarnya aku adalah tipikal orang yang pendiam, saat diganggu seperti itu, tentu rasanya aneh dan membuatku tidak tenang kalau harus melihatmu.
Selama kegiatan itu berlangsung, ada saja momen-momen yang sebenarnya membuatku salah tingkah, tapi tidak disadari olehmu. Terutama saat kita harus sekelompok untuk berdiskusi. Saat menyebutkan nomor untuk membentuk kelompok, aku terus berharap jangan sampai sekelompok denganmu. Tapi ternyata apa yang aku takutkan justru terjadi, kita sekelompok. Rasanya aku mau gila saja, bukan karena ada rasa tertarik padamu, tapi kesimpulan teman-temankulah yang membuatku jadi tidak nyaman bila harus berada di dekatmu. Saat aku datang untuk bergabung bersama kelompok, ternyata teman-teman yang lain sudah menyiapkan tempat untukku, dan parahnya tempat yang disiapkan adalah di sampingmu. Aku tidak mungkin menolak saat itu, karena itu akan membuat perasaan tidak nyamanku semakin terlihat. Jujur, dengan terpaksa aku harus duduk di sampingmu. Yah sudahlah.
Kitapun saling berkenalan dengan teman kelompok, termasuk aku dan kamu. Rasanya aku jadi benar-benar salah tingkah, rasa malu yang kumiliki terlalu nampak, entahlah saat itu kamu merasakannya atau tidak. Saat itu kamu berbohong tentang umurmu, 20 tahun katanya. Hahaha aku shock, karena jujur penampilanmu benar-benar terlihat dewasa, sedangkan tubuhku yang kecil ini sudah berusia 24 tahun saat itu. Tiba-tiba aku mulai menyadarkan diri, kamu kemudaan untuk ditaksir. Tapi hatiku terus tak percaya dengan umurmu yang katanya 20 tahun itu. Setelah lama kita berdiskusi akhirnya kamu jujur juga bahwa tahun itu kamu sudah masuk umur yang ke 25, hahaha ternyata tua setahun dariku, itukan apa aku bilang. Memang lucu candaanmu, tapi itu benar-benar membuatku shock. Untuk pertama kalinya obrolan kita, kamu dapat nilai plus karena begitu ramah dan penuh dengan candaan.
Setelah itu aku selalu diganggu oleh teman-temanku karena sekelompok denganmu, bahkan saat mengikuti materi kegiatan, mereka selalu sengaja mengatur siasat agar aku dapat duduk di sampingmu, tapi aku tetap selalu menghindar sehingga siasat mereka tidak terealisasi dengan baik. Untuk duduk bersebelahan denganmu aku harus punya mental yang kuat, yang ada aku malah jadi tidak bisa menyimak materi dengan baik karena tidak tenang duduk di sampingmu. Sepertinya rasa itu mulai muncul.
Banyak momen-momen berharga yang aku rasakan selama kegiatan itu, cukup membuatku begitu bahagia, seperti saat mengantri kamar mandi pagi-pagi, kamu datang dan meminta masuk duluan hanya sebentar, kamu begitu sopan dan selalu penuh dengan candaan, sepertinya hidupmu selalu disertai dengan tawa, tapi ternyata aku menilaimu dengan begitu cepat dan akhirnya takabur juga.
Bisa berfoto denganmu sebenarnya bukankah hal yang aku rencanakan saat itu. Tapi kamu tiba-tiba datang dan menawarkan foto bersama dengan teman-teman yang lain juga saat kita sedang berwisata rohani saat itu, dan kita pun sempat foto berdua. Saat itu tanganmu menyentuh pundakku, aku benar-benar bahagia. Karena aku tidak ingin terlihat kaku, aku pun ingin merangkulmu, namun kamu terlalu tinggi untuk aku gapai, jadi aku memeluk pinggangmu. Oh Tuhan.. rasanya aku sudah tidak bisa banyak goyang lagi, kakiku gemetar, bibirku pun gemetar, sehingga senyumku seolah dipaksakan. Yah mau bagaimana lagi, namanya juga grogi. Asalkan ada foto berdua denganmu, aku sudah sangat senang. Benar-benar hangat dirangkul olehmu, jantungku berdetak sangat cepat. Aku benar-benar senang saat itu sayang. Terima kasih. Setelah luka yang telah aku alami, kamu hadir sebagai seseorang yang membuatku memiliki rasa suka kembali pada lawan jenis. Terima kasih sayang, sampai saat ini aku benar-benar menyayangimu.
Hasil foto-foto bersama dengan teman-teman yang lain benar-benar bagus menurutmu, dan aku masih ingat kamu bilang salah satu foto itu mahal. Hehehe. Dalam perjalanan pulang dari wisata rohani, di bus kamu juga meminjam kameraku untuk melihat kembali foto-foto kita, kamu juga meminta agar kita berteman di social media, agar foto-foto itu bisa dikirim, saat itu aku berpikir kamu cukup berteman dengan temanku untuk mendapatkan foto-foto itu, sehingga aku tidak perlu ikut-ikutan berteman denganmu juga di social media.
Kamu bahkan sempat buang suara untuk meminta nomor telepon agar aku dapat mengirim foto lewat messenger. Tapi aku justru tidak peka dengan mengabaikan permintaan itu. Bodoh, aku melewatkan momen dimana kita bisa mulai berkomunikasi. Entahlah saat itu hal apa yang sedang bernaung di kepalaku, sehingga aku melewatkan kesempatan berharga itu. Yah sudahlah, toh saat ini juga kita sudah berkomunikasi.
Saat kembali ke tempat kegiatan kamu sempat melihat ulang kembali foto-foto kita yang sudah aku pindahkan di tablet, kamu pun bertanya tentang pertemanan kita di social media, apakah kamu sudah aku add, dan aku menjawab belum. Katamu kita harus berteman dulu, akhirnya kupersilahkan kamu searching nama akunmu sendiri pada tabletku yang sedang kamu pegang. Maklumlah, namamu terlalu sulit untuk aku cari. Akhirnya kita berteman di salah satu social media juga. Dalam hati aku sangat senang, tapi tidak sebegitu senangnya karena ternyata dari hasil kepo yang aku lakukan, ternyata kamu sudah punya someone special. Hahaha. Sejak saat itu aku urungkan niatku sampai nyaris hilang untuk menaksirmu, karena aku tidak suka menjadi pengganggu dalam hubungan orang lain.
Terlepas dari semua itu, perasaan memang tidak bisa dikendalikan, sesekali aku curi-curi pandang melihatmu, aku sudah sering membuang jauh-jauh pandanganku terhadapmu, tapi sekarang kamu yang keseringan muncul di hadapanku. Terkadang kamu muncul tiba-tiba setelah mandi, tanpa mengenakan atasan dengan tubuhmu yang masih tampak lembab, rambutmu yang basah. Hahaha adem banget, tapi itu membuatku jadi salah tingkah juga, akhirnya aku berlari masuk kembali ke kamarku di tempat kegiatan rohani untuk menghindari liarnya mataku yang jelalatan melihatmu.
Aku mulai hafal suara tawamu, sering aku dengar dari kamar ketika kamu masih bercengkrama dengan teman-temanmu dilarutnya malam. Tawamu begitu terdengar bahagia bahkan sampai saat ini. Mendengarmu tertawa membuatku ikut bahagia, ada suara lain yang selalu aku rindukan dari dirimu, suara ngorokmu diiringi bunyi kipas angin di kamarmu. Aku selalu merindukan itu, kini aku sudah sangat jarang mendengarnya, kamu sudah mulai jarang menelponku. Aku begitu merindukan intensnya komunikasi kita sayang, tapi mengapa kamu seperti sengaja mengabaikanku?
Banyak hal yang terjadi di tempat kegiatan rohani itu. Aku masih ingat bagaimana modusnya aku mengikuti teman-temanku untuk balik ke tempat kegiatan yang sebenarnya sudah berakhir. Saat itu kami kembali pada malam hari untuk mengajak jalan salah satu teman kalian dari ibukota, aku selalu berharap melihatmu sekali lagi, karena aku pikir setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi, dan rasa sukaku akan selesai juga pada esok hari di hari keberangkatan kalian untuk pulang kembali ke ibukota. Ada banyak hal yang tidak terlupakan sampai mungkin ada yang terlupakan juga. Karena setiap momen bersamamu, sedetikpun sangat begitu berharga bagiku, namun tidak dapat kujabarkan dalam tulisan ini satu persatu. Tapi aku selalu mengingatnya dalam hati, dan mengulangnya dalam pikiranku. Intinya kamu begitu berharga dalam ingatanku. Aku mencintaimu.
Setelah kepulanganmu dan teman-temanmu kembali ke ibukota, aku tidak bisa menghentikan niatku untuk kepo tentang keadaanmu di sana. Dan aku mulai meraba-raba, sepertinya kamu sudah tidak punya hubungan lagi dengan seseorang yang tadinya aku pikir masih someone special buatmu. Akhirnya aku jadi semakin bersemangat untuk selalu mengecek keadaanmu via kepo doank. Hehehe. Oh iya, aku masih ingat waktu makan siang terakhir kita di kegiatan rohani waktu itu, kamu sempat mengeluhkan BBM mu yang katanya lagi error. Katamu waktu itu, kalau kita berteman di BBM lebih baik, hahaha. Aku benar-benar deg deg gan saat itu, apalagi hanya karena mau membahas soal itu, kamu berpindah dari tempat dudukmu untuk duduk lebih dekat bersamaku dan salah seorang temanku. Akhirnya kita berkirim foto via bluetooth, kamu juga meminta aku untuk searching video kamu di youtube, dan meminta aku buat ngelike. Hahaha promo ya Bung? It's okelah, jadi aku bisa lebih tahu tentangmu. Kamu banyak bercerita, sampai dengan pengalamanmu sewaktu KKN di Saparua. Kamu memang benar-benar pintar berbaur, hatiku sampai ikut terbaur tak karuan, hahaha.
Baiklah, meninggalkan ingatan sepotong itu. Hasil kepoku menghasilkan sesuatu, pin BBM yang kamu upload, sepertinya BBM mu sudah bagus ya? Hehehe, akhirnya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung add pinmu, kamu menerima, dan sudah, hanya seperti itu, hanya berteman. Besoknya tidak ada perubahan, kita hanya sekedar berteman, aku mulai menepuk-nepuk keningku, berusaha untuk sadar. Sudahlah, nothing special di antara kita. Aku hanya perlu merasa ini seperti pertemanan biasa. Sampai akhinya keputus asaanku berujung pada menghabiskan paket data dan tidak ingin membelinya lagi. Aku pikir lebih baik untuk tidak online. Sampai suatu ketika aku kembali mengaktifkan data dan jreng.. jreng.. ada satu BBM masuk yang berbunyi PING ! Dan itu darimu, si Bung. Dan parahnya BBM itu adalah BBM dari hari kemarin. Aku begitu menyesal rasanya melewatkan kesempatan ini. Akhirnya ku balas saja dengan PING kembali, namun ternyata hanya diread, aku semakin menyesal. Di suatu tengah malam, kamu PING kembali aku dan menanyakan kabarku. Aku yang sedang asyik menonton TV langsung terkejut, jantungku mau copot rasanya. Aku menjawab sapaanmu dengan juga selalu memberikan pertanyaan balik agar obrolan kita tidak terputus. Tapi ternyata hal seperti itu tidak mempan, berasa gantung. Perasaan BBM terakhirku masih bersifat pertanyaan deh yang sekiranya harus kamu dijawab, tapi hanya diread. Yah sudahlah mungkin kamu sempat membacanya lalu tertidur, pikirku positif. Aku tidak menyadari bahwa ternyata ini adalah awal bagaimana cintaku akan digantung. LMdBS
Minggu, 28 Mei 2017
Mengapa Aku si Dandelion?
Aku memiliki seorang teman dekat yang juga menggunakan nama bunga untuk mendeskripsikan bagaimana dirinya. Mawar Berduri. Filosofi yang pernah dia ceritakan tentang arti dari Mawar Berduri adalah bunga cantik yang tidak sembarangan dapat disentuh oleh orang lain. Ya, Mawar. Siapa yang tidak kenal bunga ini, banyak orang yang mengartikan bunga ini sebagai lambang cinta yang begitu romantis. Mereka lupa bahwa bunga ini berduri.
Temanku berharap Mawar Berduri menjadi ikon yang menunjukkan seperti apa dirinya, sebuah bunga yang cantik dan banyak diminati orang, namun orang tersebut harus berhati-hati ketika ingin menyentuh bunga cantik ini karena berduri. Filosofi ini berarti bahwa temanku adalah seseorang yang cantik dan rupawan, banyak orang yang menyukainya, tapi tidak sembarangan orang yang dapat mendekatinya, karena berduri berarti orang tersebut harus lebih berhati-hati. Wah, aku rasa julukan Mawar Berduri ini benar-benar mahal.
Lalu bagaimana denganku? Aku sebut diriku si Dandelion. Bunga liar, tidak mahal, dapat tumbuh dimana saja. Apakah maksudnya aku liar? Hahaha. Tentu saja tidak seperti itu.
Menurut hasil penelusuran, bunga Dandelion atau yang biasa dikenal dengan sebutan bunga Randa Tapak, masih termasuk dalam genus Taraxacum dari family Asteraceae. Bunga Dandelion sendiri berasal dari benua Eropa dan Asia. Bunga Dandelion dapat hidup di segala tempat, kemanapun angin yang membawa benih Dandelion terjatuh, maka disitulah Dandelion akan tumbuh. Secara fisik, Dandelion memang tidak menarik. Mungkin karena bentuknya yang aneh dengan tangkainya yang terlihat begitu rapuh.
Sebenarnya Dandelion banyak mengajarkan kepada manusia -- bagi yang mengerti -- tentang arti hidup yang sesungguhnya. Aku akan menjelaskan sedikit makna kehidupan dari bunga Dandelion.
Bunga Dandelion dengan tangkainya yang kecil dan begitu sederhana dapat tumbuh dimana saja, tergantung dimana benihnya terjatuh. Serpihan-serpihan kecil bunganya yang ringan akan sangat mudah terbang terbawa angin dan menyebar kemana pun ia mau, dan pada akhirnya akan tumbuh menjadi bunga yang baru di tempat ia terjatuh.
Bunga Dandelion terlihat sangat rapuh, namun tidak seperti kelihatannya. Bunga ini sangat kuat, sangat indah, dan memiliki arti yang dalam. Kuat menentang angin, terbang tinggi dan menjelajahi angkasa, hingga akhirnya jatuh di suatu tempat dan tumbuh menjadi kehidupan yang baru.
Inilah inti dari kehidupan bunga Dandelion yang menyimpan arti cukup dalam. Terbang tinggi dan menjelajahi angkasa, itu berarti tetap berusaha untuk mengejar dan menggapai cita, cinta, harapan, apapun itu, dan tidak berhenti untuk terus mengejarnya meskipun jalan yang dilewati penuh bebatuan. Dan jatuh di suatu tempat serta tumbuh menjadi kehidupan baru, itu berarti memperbaiki setiap kondisi lingkungan dimana pun kita berada, kita dapat membawa kebahagiaan dimanapun kita berada.
Aku menyukai semangat dari bunga Dandelion ini. Yang dengan rapuhnya mudah terbawa angin, yang dengan liarnya tumbuh dimana saja benihnya terjatuh. Aku sang rapuh tapi semangatku tak pernah padam. Aku terbang bebas setinggi mungkin, sejauh mungkin, sampai angin menghentikan aku, dan ketika aku sampai pada tempat dimana aku harus berpijak, aku akan membangun kehidupan yang baru di sana, dengan kebahagiaan.
Aku liar, aku tidak menarik, aku sangat sederhana, aku begitu rapuh, aku mudah diterbangkan oleh angin. Aku si Dandelion.
Temanku berharap Mawar Berduri menjadi ikon yang menunjukkan seperti apa dirinya, sebuah bunga yang cantik dan banyak diminati orang, namun orang tersebut harus berhati-hati ketika ingin menyentuh bunga cantik ini karena berduri. Filosofi ini berarti bahwa temanku adalah seseorang yang cantik dan rupawan, banyak orang yang menyukainya, tapi tidak sembarangan orang yang dapat mendekatinya, karena berduri berarti orang tersebut harus lebih berhati-hati. Wah, aku rasa julukan Mawar Berduri ini benar-benar mahal.
Lalu bagaimana denganku? Aku sebut diriku si Dandelion. Bunga liar, tidak mahal, dapat tumbuh dimana saja. Apakah maksudnya aku liar? Hahaha. Tentu saja tidak seperti itu.
Menurut hasil penelusuran, bunga Dandelion atau yang biasa dikenal dengan sebutan bunga Randa Tapak, masih termasuk dalam genus Taraxacum dari family Asteraceae. Bunga Dandelion sendiri berasal dari benua Eropa dan Asia. Bunga Dandelion dapat hidup di segala tempat, kemanapun angin yang membawa benih Dandelion terjatuh, maka disitulah Dandelion akan tumbuh. Secara fisik, Dandelion memang tidak menarik. Mungkin karena bentuknya yang aneh dengan tangkainya yang terlihat begitu rapuh.
Sebenarnya Dandelion banyak mengajarkan kepada manusia -- bagi yang mengerti -- tentang arti hidup yang sesungguhnya. Aku akan menjelaskan sedikit makna kehidupan dari bunga Dandelion.
Bunga Dandelion dengan tangkainya yang kecil dan begitu sederhana dapat tumbuh dimana saja, tergantung dimana benihnya terjatuh. Serpihan-serpihan kecil bunganya yang ringan akan sangat mudah terbang terbawa angin dan menyebar kemana pun ia mau, dan pada akhirnya akan tumbuh menjadi bunga yang baru di tempat ia terjatuh.
Bunga Dandelion terlihat sangat rapuh, namun tidak seperti kelihatannya. Bunga ini sangat kuat, sangat indah, dan memiliki arti yang dalam. Kuat menentang angin, terbang tinggi dan menjelajahi angkasa, hingga akhirnya jatuh di suatu tempat dan tumbuh menjadi kehidupan yang baru.
Inilah inti dari kehidupan bunga Dandelion yang menyimpan arti cukup dalam. Terbang tinggi dan menjelajahi angkasa, itu berarti tetap berusaha untuk mengejar dan menggapai cita, cinta, harapan, apapun itu, dan tidak berhenti untuk terus mengejarnya meskipun jalan yang dilewati penuh bebatuan. Dan jatuh di suatu tempat serta tumbuh menjadi kehidupan baru, itu berarti memperbaiki setiap kondisi lingkungan dimana pun kita berada, kita dapat membawa kebahagiaan dimanapun kita berada.
Aku menyukai semangat dari bunga Dandelion ini. Yang dengan rapuhnya mudah terbawa angin, yang dengan liarnya tumbuh dimana saja benihnya terjatuh. Aku sang rapuh tapi semangatku tak pernah padam. Aku terbang bebas setinggi mungkin, sejauh mungkin, sampai angin menghentikan aku, dan ketika aku sampai pada tempat dimana aku harus berpijak, aku akan membangun kehidupan yang baru di sana, dengan kebahagiaan.
Aku liar, aku tidak menarik, aku sangat sederhana, aku begitu rapuh, aku mudah diterbangkan oleh angin. Aku si Dandelion.
Jumat, 24 Februari 2017
Yang Tersembunyi
Jangan pikir aku tidak terluka.
Wanita lugu yang mencintai dengan bodohnya. Aku? Mungkin aku, mungkin kamu yang juga membaca!
Entah apa yang sebenarnya salah dalam diriku, selalu berusaha mencintai dengan sebaik mungkin, tapi cinta tidak selalu berpihak padaku. Apa yang sebenarnya harus diperbaiki? Cara mencintai? Atau?
Aku sering membaca kalimat motivasi, begitu mudah untuk dibaca namun sulit untuk dipahami. Katanya gagal bukanlah suatu kesalahan, lalu bagaimana dengan gagal berulang kali? Bagaikan sial. Jika saja ada keteledoran berlebihan yang aku lakukan dalam mencintai, aku layak mendapatkan rasa sakit. Rasanya ingin berteriak saja. Aku bukan ingin memberontak, tapi tolong hentikan pertemuan dengan orang yang salah karena semakin hari waktu semakin berharga bagiku. Ini memang bukan soal waktu tapi soal perasaan, waktu mungkin terbuang sia-sia, lalu bagaimana dengan perasaan? Hancur sia-sia? Kita mungkin bisa mencintai dengan cepat, tapi tidak dengan melupakan. Jadi, setelah perasaan hancur dengan sia-sia, diikuti waktu yang terbuang dengan sia-sia hanya untuk sekedar lupa. Lupa akan cinta.
Aku pikir hatiku terbuat dari batu. Aku masih tetap kokoh sampai detik ini, berusaha untuk tetap buta dan tuli seolah tak melihat dan tak mendengar apapun.
Berusaha untuk tetap kuat dengan kebenaran yang ada itu memang benar-benar menyakitkan, aku pikir hanya ada dalam cerita-cerita khayalan, ternyata cinta serumit itu. Jadi begini rasanya, menjadi orang yang baru, menjadi orang yang jauh, dan menjadi orang cadangan. Itulah sebabnya aku tersembunyi dengan sangat rapi.
Cinta, demi dirimu aku berusaha menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Aku sadar, aku tidak boleh seberharap itu karena aku hanyalah yang tersembunyi, tapi kamu tahu bukan sebesar apa harapanku saat ini? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Maaf, tak bermaksud menguji, ada beberapa hal yang mungkin biasa bagimu tapi bukanlah hal yang biasa bagiku. Hanya kamu yang bisa menyelamatkanku dari perasaan ini. Aku memang selugu itu, apa mungkin bodoh di matamu?
Menyesali apa yang telah terjadi dan ingin mengulang waktu? Mana mungkin. Aku mungkin pantas disebut bodoh, terjebak pada satu lubang kelam hanya karena akal yang sementara dibutakan oleh yang katanya disebut cinta. Aku sadar, aku tidak seberharga itu lagi di matamu. Kini, apalah dayaku? Tinggal kamu buang saja.
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku selalu yakin padamu tentang apapun itu. Aku sangat menghargai setiap hal yang kamu lakukan sekecil apapun itu. Aku tahu salah untuk mempercayaimu, tapi itulah caraku mencintaimu dengan tulus. Rasanya pun kamu memang selalu jujur, walaupun itu menyakitkan. Jadi, aku pikir tidak salah aku mempercayaimu.
Meskipun mimpi terkadang menakutiku, aku tidak peduli. Yang aku tahu hanya tetap berusaha memberimu kenyamanan senyaman mungkin. Tetap berusaha meskipun aku tahu peluangku begitu nihil, karena aku tidak mungkin meninggalkanmu. Kamu tahu mengapa bukan? Dan ketika mungkin kamu akan meninggalkanku (baca: ini bukan doa). Apa yang bisa dilakukan oleh wanita sepertiku? Apa yang bisa dilakukan oleh pendosa sepertiku? Menangis? Memandang lemah dengan penuh kekecewaan? Mungkin aku sebut ini hukuman yang pantas aku terima.
Tahukah dirimu? Rasanya baru pernah aku mencintai seseorang sesulit ini. Dulu aku berpikir aku hanyalah yang tersembunyi dari publik, ternyata tidak hanya sekedar itu. Aku mungkin bukan yang kamu harapkan, aku hanya disimpan untuk cadangan atau bahkan bisa menjadi cadangan yang tidak terpakai. Memang sakit, tapi aku cukup punya banyak tenaga untuk berpura-pura kuat. Karena aku sudah terlanjur buta karena cinta, aku sudah terlanjur berada dalam gelap. Silahkan mengujiku sampai hatiku menjadi kering.
Patenkanlah hatimu untuk seorang saja!
Dan saat segalanya akan benar-benar tersingkap, yang aku butuhkan mungkin hanya hati dan mental sekuat baja. LMdBS
Wanita lugu yang mencintai dengan bodohnya. Aku? Mungkin aku, mungkin kamu yang juga membaca!
Entah apa yang sebenarnya salah dalam diriku, selalu berusaha mencintai dengan sebaik mungkin, tapi cinta tidak selalu berpihak padaku. Apa yang sebenarnya harus diperbaiki? Cara mencintai? Atau?
Aku sering membaca kalimat motivasi, begitu mudah untuk dibaca namun sulit untuk dipahami. Katanya gagal bukanlah suatu kesalahan, lalu bagaimana dengan gagal berulang kali? Bagaikan sial. Jika saja ada keteledoran berlebihan yang aku lakukan dalam mencintai, aku layak mendapatkan rasa sakit. Rasanya ingin berteriak saja. Aku bukan ingin memberontak, tapi tolong hentikan pertemuan dengan orang yang salah karena semakin hari waktu semakin berharga bagiku. Ini memang bukan soal waktu tapi soal perasaan, waktu mungkin terbuang sia-sia, lalu bagaimana dengan perasaan? Hancur sia-sia? Kita mungkin bisa mencintai dengan cepat, tapi tidak dengan melupakan. Jadi, setelah perasaan hancur dengan sia-sia, diikuti waktu yang terbuang dengan sia-sia hanya untuk sekedar lupa. Lupa akan cinta.
Aku pikir hatiku terbuat dari batu. Aku masih tetap kokoh sampai detik ini, berusaha untuk tetap buta dan tuli seolah tak melihat dan tak mendengar apapun.
Berusaha untuk tetap kuat dengan kebenaran yang ada itu memang benar-benar menyakitkan, aku pikir hanya ada dalam cerita-cerita khayalan, ternyata cinta serumit itu. Jadi begini rasanya, menjadi orang yang baru, menjadi orang yang jauh, dan menjadi orang cadangan. Itulah sebabnya aku tersembunyi dengan sangat rapi.
Cinta, demi dirimu aku berusaha menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Aku sadar, aku tidak boleh seberharap itu karena aku hanyalah yang tersembunyi, tapi kamu tahu bukan sebesar apa harapanku saat ini? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Maaf, tak bermaksud menguji, ada beberapa hal yang mungkin biasa bagimu tapi bukanlah hal yang biasa bagiku. Hanya kamu yang bisa menyelamatkanku dari perasaan ini. Aku memang selugu itu, apa mungkin bodoh di matamu?
Menyesali apa yang telah terjadi dan ingin mengulang waktu? Mana mungkin. Aku mungkin pantas disebut bodoh, terjebak pada satu lubang kelam hanya karena akal yang sementara dibutakan oleh yang katanya disebut cinta. Aku sadar, aku tidak seberharga itu lagi di matamu. Kini, apalah dayaku? Tinggal kamu buang saja.
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku selalu yakin padamu tentang apapun itu. Aku sangat menghargai setiap hal yang kamu lakukan sekecil apapun itu. Aku tahu salah untuk mempercayaimu, tapi itulah caraku mencintaimu dengan tulus. Rasanya pun kamu memang selalu jujur, walaupun itu menyakitkan. Jadi, aku pikir tidak salah aku mempercayaimu.
Meskipun mimpi terkadang menakutiku, aku tidak peduli. Yang aku tahu hanya tetap berusaha memberimu kenyamanan senyaman mungkin. Tetap berusaha meskipun aku tahu peluangku begitu nihil, karena aku tidak mungkin meninggalkanmu. Kamu tahu mengapa bukan? Dan ketika mungkin kamu akan meninggalkanku (baca: ini bukan doa). Apa yang bisa dilakukan oleh wanita sepertiku? Apa yang bisa dilakukan oleh pendosa sepertiku? Menangis? Memandang lemah dengan penuh kekecewaan? Mungkin aku sebut ini hukuman yang pantas aku terima.
Tahukah dirimu? Rasanya baru pernah aku mencintai seseorang sesulit ini. Dulu aku berpikir aku hanyalah yang tersembunyi dari publik, ternyata tidak hanya sekedar itu. Aku mungkin bukan yang kamu harapkan, aku hanya disimpan untuk cadangan atau bahkan bisa menjadi cadangan yang tidak terpakai. Memang sakit, tapi aku cukup punya banyak tenaga untuk berpura-pura kuat. Karena aku sudah terlanjur buta karena cinta, aku sudah terlanjur berada dalam gelap. Silahkan mengujiku sampai hatiku menjadi kering.
Patenkanlah hatimu untuk seorang saja!
Dan saat segalanya akan benar-benar tersingkap, yang aku butuhkan mungkin hanya hati dan mental sekuat baja. LMdBS
Langganan:
Postingan (Atom)







