Translate

Senin, 20 Juni 2016

Derita Harapan

Hahahahaha...
Luar biasa hidup ini, waktu ternyata mampu merubah segalanya. Dari cinta menjadi benci, benci menjadi cinta, dan cinta kembali lagi menjadi benci. Aku penasaran dengan waktu berikutnya yang entah akan merubah perasaanku menjadi seperti apa. Banyak hal yang bisa menjadi faktor pendukung, salah satunya adalah "kembali bertemu".

Aku datang dengan harapan besar, mungkin terlalu besar hingga akhirnya aku termakan oleh harapan itu. Jika ada yang bertanya, mengapa aku berharap? Itu karena perasaanku begitu yakin padanya. Mengapa aku begitu yakin? Karena sampai dengan terakhir kali, dia masih menyapaku lewat message di hari minggu, meskipun itu dilakukannya hanya ketika melihat kehadiranku. Tapi itu cukup membuatku yakin bahwa setidaknya masih ada sedikit perasaan yang dia simpan untukku.

Sampai saat ini, mata kami tak bisa saling bertatap lama, entah mengapa.. secara otomatis mata ini berusaha menolak, sepertinya pandangan dapat memicu keluar perasaan yang tersimpan, dan kami masih saling menjaga itu. Biarlah kami saling curi-curi pandang, itu cukup menyejukkan hati.

Selalu ada perasaan bahwa dia sedang berakting, entah untuk apa...
Begitu hangat terasa, baik, dan perhatian. Hangat dari tatapannya yang sesekali mengobrak-abrik hati, baik dari caranya memperlakukanku dengan santunnya, dan perhatian-perhatian kecil yang dia berikan membuat hati ini mulai tidak kokoh. Haha.. dari awal aku memang berencana untuk meruntuhkan hatiku yang keras. Bisa dikatakan dia cukup baik untuk memulai kembali, meskipun perlakuannya nampak palsu, karena aku begitu tahu sifat aslinya. Tapi hal itu cukup menjadi kelucuan untuk aku nikmati.

Menurut salah seorang teman, seorang yang pendiam akan lebih mudah menyampaikan perasaannya lewat tindakan, karena berbicara bukanlah gayanya. Oke! Aku terima pendapat itu. Terima kasih teman, pendapatmu membuatku semakin yakin, tapi sekarang yang ingin aku tahu, untuk apa tindakan itu? Aku takut salah menerka karena terbawa perasaan.
Mungkin dia ingin menciptakan suasana yang nyaman, ataukah ingin menghapus kesalahan dengan berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa, ataukah ingin membalas dendam dengan cara yang lembut? Aku pun tidak bisa menerka dengan tepat. Kembali lagi ke waktu, karena waktu yang akan menjawabnya.

Seiring beberapa hari berlalu dengan kebersamaan, aku bahagia dengan sikapnya yang menurutku selalu menjadikanku istimewa, tetapi aku juga mulai mencium bau yang sepertinya bisa dirasakan oleh perempuan manapun. Hatiku yang sebenarnya yakin dengan perasaan itu melawan untuk menerimanya, mungkin karena harapanku sudah terlalu besar untuk ditumbangkan.

Aku mulai mencari-cari kebenaran, yang sebenarnya belum aku tahu pasti sampai saat ini. Tapi "feeling" sepertinya bisa membenarkan hal itu tanpa perlu bukti yang nyata. Hhhh... sudahlah harapan, tolong berhenti melotot padaku! Aku sudah tidak mampu melakukan apa-apa lagi untuk mewujudkanmu, jika judulnya sudah berganti dengan kehadiran orang lain. :)


Ingin rasanya harapan ini terbang dan menghilang semudah dandelion yang ditiup angin. Yaah... bak ditiup angin, semuanya ingin terlupakan dengan mudah. Karena aku tidak ingin menjadi orang yang tega untuk orang lain. Sama seperti seseorang yang dulu pernah hadir memberi kebimbangan di hatinya, kini aku tidak ingin menjadi orang yang juga memberi kebimbangan di hatinya. Karena aku tahu rasanya menjadi orang yang dipertimbangkan, tidak jelas dan diakhiri dengan ending yang menyedihkan. Kalaupun dia tergoda kembali, pasti ada perasaan tidak nyaman bagiku. Tidak nyaman karena perasaan orang lain yang dikorbankan, tidak nyaman karena aku sedang memainkan peran si pemberi bimbang di masa lalu yang jelas-jelas saat itu aku yang menjadi korban, dan tidak nyaman karena mungkin suatu hari nanti dia akan berubah lagi karena pemberi bimbang lain yang datang kembali. Hahahaha... hanya tertawa yang bisa aku lakukan saat ini untuk mulai mengikis harapanku.

Terlalu mencintai membuatku menjadi bodoh, terkadang hatiku bernegosiasi dengan pikiranku untuk mengiyakan segala hal meskipun menyakiti, tapi negosiasi itu mulai aku hentikan, aku tidak bisa terus menerus memaksakan pikiranku untuk menerima semua keinginan hati. Mereka selalu mengatakan untuk mengikuti kata hati, tapi sepertinya aku tidak boleh melakukannya untuk kali ini, mengikuti kata hati membuatku menghalalkan segala cara, meskipun salah dan menyakiti orang lain, bahkan sebenarnya menyakiti diriku sendiri. Mungkin sudah cukup. Aku berhenti sampai di sini.

Mari berbesar hati untuk tidak membuat orang lain merasakan hal buruk yang pernah kita alami. Karena pengalaman mengajarkan kita untuk tidak mengulang, baik ke diri kita maupun ke orang lain.

Jika boleh berucap: "Mengenalmu adalah hal terburuk dalam hidupku."
Aku belajar banyak hal semenjak itu. Karena dulu aku memiliki prinsip untuk tidak mendengarkan kata orang, lebih kepada mencoba dan merasakan sendiri. Jika baik, maka baiklah juga untukku, jika ternyata tidak baik seperti yang sudah kualami, maka tugasku adalah berusaha menyembuhkan diriku sendiri tanpa bantuanmu. Kini aku sadar bahwa mendengar kata orang pun tidak ada salahnya, itu bisa menjadi bahan pertimbangan. Jangan kesal! Toh, kamu juga pernah menjadikanku bahan pertimbangan, bukan?

Apa kamu tidak bisa melihat ke dalam dirimu? Apa yang kamu lakukan untukku itu jahat dan mungkin sudah berulang kamu lakukan untuk mereka yang sudah-sudah. Tapi aku sadar bahwa menyesali hal yang telah berlalu hanya menyisahkan duka.

Aku jadi teringat pada alarm yang sudah ku buat, membuatmu kesal dengan mengembalikan segala hal tentangmu agar kau membenciku. Dan ketika aku ingin kembali, seolah alarm itu berdering mengingatkanku, bahwa yang kuharapkan itu tak bisa terealisasikan karena aku telah membuatmu membenciku. Entah aku mundur karena orang lain atau karena alarm yang sudah ku buat. Kini aku hanya berharap menjadi pribadi yang lebih bijak dalam mengambil keputusan. Semoga setiap moment menjadi pembelajaran dan bahan pertimbangan.

"Gunakan alarm yang sudah kamu ciptakan Rin, pada akhirnya alarm itu juga berfungsi." Mungkin ini caraku menasehati diri sendiri. Be a strong!!

Sekali lagi, maafkan aku yang tak mampu mendoakan kebahagiaanmu. AS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar