Translate

Rabu, 08 April 2015

Flamboyan

Tak disangka, kemarin adalah akhir dari perjumpaan kita. Perjumpaan yg tak pernah disangka akan membuahkan cinta. Awal kedatanganmu tak begitu memiliki arti.
Ketika kita ditakdirkan bersama melangkah untuk pertama kalinya, sedikit ada rasa yg nampak dari caramu bersikap. Canggung. Aku menganggapnya sebagai suatu permulaan.
Hari pertama pun berlalu dengan begitu syahdu.

Tiba dihari kedua, takdir membawa kita untuk melewati malam bersama, bahkan seminggu penuh kebersamaan kita. Perhatian yg tak kunjung hentinya dari bibirmu terus meluap-luap. Entah maksud hati sedang menyiram bibit baru yg telah kau tanam, ataukah hanya bentuk sederhana yg kerap kali kau lakukan. Aku harap, tidak.

Jarum jam di dinding terus berjalan, berputar mengitari setiap angka. Aku terus menunggu waktu untuk bertemu kembali denganmu. Ingin cepat berjumpa, ingin cepat melihat rupa, seperti apa kau hari ini? Apa masih seindah kemarin, ataukah lebih indah dari kemarin? Aku harap, selalu.


Tiba saat terakhir, saat dimana wajahmu tak akan kulihat lagi, saat dimana kita akan benar-benar melepas pandang. Ada sentuhan lain yg kau tanamkan, yg benar-benar membuat hatiku bergetar tak karuan. Benakku menyimpan sejarah, bahwa begitu berharganya setiap tatapan yg kau tunjukkan, setiap teguran yg kau ucapkan, setiap sentuhan yg kau lakukan. Nyata dan bukan sekedar mimpi.
Kau tumbuh di antara belukar berduri. Apakah hanya sekedar ilusi?
Bahkan bagian tubuh yg kuanggap paling hebat, apakah mungkin bisa salah?
Ya, hati. Hati ini bergejolak dengan hebatnya.

Awal yg baik dan tanpa rasa, namun dalam jangka waktu singkat, semua begitu cepat. Entah juga sama ataupun tidak, tapi hati ini selalu bersenandung setiap kali menatapmu.
Perkataan dan sikapmu melahap seluruh kekuatan hati, pengertian yg sejelas-jelasnya menggerogoti tubuh, seolah tak berdaya dan tak mau tahu. Serasa ingin terus melanjutkannya, melanjutkan sesuatu yg sebenarnya adalah salah.
Ingin berteriak, ingin bertanya, salah siapa? Namun apa daya, ketika hati yg berbicara, tak ada hal lain yg dapat dilakukan selain mengikutinya.

The best moment in Flamboyan. ASA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar