Mungkin ini sebuah kalimat yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Dilema dan kegalauan beradu dalam otak yang terus menerus dibingungkan oleh hati. Mungkin aku belum begitu baik dalam mengerti keinginan hati, atau lebih mendekati kata "gengsi". Entahlah, tidak pernah ada seseorang yang dengan gagah mengaku kegengsiannya, selain menahan hingga perasaan habis dimakan gengsi.
Aku selalu bertanya-tanya, apa yang sedang dia lakukan di sana? Merindukan orang lain? Atau mungkin menahan gengsinya? Rasanya sudah satu setengah tahun lebih kami tidak bersama, tetapi akhir-akhir ini aku selalu didatangi olehnya dalam berbagai hal yang tidak dapat ku tolak. Mimpi. Yah, mimpi. Namun sayang, mimpi dimana dia ada, selalu dengan skenario yang buruk. Aku tidak bisa menebak, apakah ini sekedar bunga tidur atau pesan buruk ataukah rindu, hmm... kalimat ini begitu terdengar "ngarep".
Aku berusaha merendah untuk memulai komunikasi dengannya tanpa berpikir panjang, dan ternyata rasa yang aku miliki memang masih selalu ada untuknya, kesimpulan ini aku ambil saat tangan dan sekujur tubuhku keringat dingin menunggu respon darinya. Wanita, satu setengah tahun lebih memang belum cukup untuk menghapus rasa.
Dengan lagaknya yang seolah-olah tak ada sesuatu yang mengejutkan, menegurku dengan lembutnya. Begitu palsu terbaca, begitu asing terlihat. Dia yang dulu begitu super dengan "ke-alay-an"nya tiba-tiba menjadi sosok yang tenang.
Hanya beberapa kali kami saling menyapa, selanjutnya tidak lagi, entah beberapa minggu terlewatkan. Aku tahu ada hal yang mungkin begitu menyakitinya yang telah kulakukan, tapi aku sadar dengan apa yang aku lakukan. Itu memang buruk baginya, tapi itu adalah akhir dari segalanya bagiku. Aku mematikan hubungan kami dulu dengan cara demikian, agar alarm otakku selalu berdering ketika hatiku ingin kembali, sekedar mengingatkan bahwa menjilat ludah sendiri adalah hal yang paling menjijikkan.
Aku selalu bertukar pikiran dengan mereka yang aku pikir memahami perasaanku. Aku sadar di antara mereka banyak pemikiran-pemikiran yang berbeda, ada tanggapan berdasarkan logika, ada tanggapan berdasarkan hati nurani. Bagi mereka pria yang mengatakan bahwa "cintanya berkurang" tidak pantas untuk dicintai seumur hidup. Namun aku tetap percaya terhadap apa yang aku pikirkan, aku mencintainya, masih mencintainya, selalu mencintainya, namun... aku tidak ingin hidup bersamanya. Mengapa? Karena aku tahu, dia bukanlah orang yang pantas dijadikan pendamping hidup. Maaf.
Mungkin dia berpikir bahwa aku tidak bisa melupakannya dengan mudah. Ya, benar. Tapi itu bukan alasan untuk aku kembali. Atau mungkin dia berpikir untuk membalas perbuatanku yang pernah menyakitinya. Terserah. Toh rasa kecewa dan sakit hatiku mengalahkan setiap rasa. Hmm... aku tidak pernah ingin mendoakannya bahagia, terlalu munafik buatku melakukan itu, aku yakin dia bisa berdoa untuk kebahagiaannya sendiri.
Walaupun aku selalu mencari tahu tentangnya, kesibukkannya, bahkan yang didekatinya saat ini, tetapi itu hanya sekedar melegakan rasa ingin tahu ku, tanpa mengharapkan apapun. Meskipun Tuhan dapat mengampuni orang yang bersalah, aku tidak akan pernah bisa memaafkannya, karena aku bukan Tuhan, aku hanya manusia biasa dengan memori yang begitu baik sehingga sulit untuk melupakan semua luka.
Kini dia muncul dengan gaya ke-Tuhan-annya, mengucap syukur dengan segala berkat, percaya... bahwa yang terbaik masih ada di depannya. Sungguh tidak dapat dipercaya, betapa serakahnya makhluk Tuhan yang satu ini. Mematahkan banyak hati yang terbaik, lalu meminta lagi yang terbaik. Bagaimana mungkin dia meminta kesempurnaan, disaat kesempurnaan banyak orang dicacatinya? Sudahlah, aku tidak ingin menjadi hakim yang memutuskan kesalahannya. Aku tidak ingin menjadi pendoa yang mendoakan keburukkan baginya. Dan yang pasti, aku tidak ingin menjadi pendamping hidup dari lelaki yang tidak pantas untuk didampingi, dari lelaki yang mudah berkurang cintanya, dari lelaki yang mudah tergoda dengan kehadiran kisah masa lalunya, dari lelaki dengan tutur kata yang kasar, dan dari lelaki yang tidak mampu mengambil keputusan. Mungkin terdengar kasar, tapi itulah ungkapan hati yang sebenarnya. Jika kamu ingin kembali bersama, aku dapat mengijinkannya, namun hanya sebagai kekasih, bukan sebagai pendamping hidup. Meskipun aku tidak tahu jalan Tuhan, tapi inilah yang bisa aku tegaskan saat ini. Kamu tidak perlu membenciku, karena kebencianmu tidak akan pernah bisa mengalahkan kebencianku terhadapmu.
Karma memang berlaku. Aku tidak pernah meminta Tuhan untuk menghukummu, tapi aku percaya bahwa "Tuhan itu Maha Adil". Dengan demikian Dia tahu apa yang layak diberikan untukmu.
Dan... aku tidak perlu berjalan mundur, cukup kamu yang tahu diri. AS


