Translate

Senin, 28 Juli 2014

Benih Kebodohan

Sedang berusaha mematenkan hati untuk benar-benar mengakhiri semua ini. Mengakhiri rasa keingintahuan ini. Melakukan hal bodoh dengan sia-sia.
Untuk apa semua ini dilakukan? Jika hanya merana yang diperoleh. Diri sendiri yang menghancurkan hati.
Perlahan mulai kutinggalkan, perlahan kuhilangkan jejakku. Dan satu ini, hanya satu ini yang begitu berat untuk ditutup. Butuh kekuatan untuk menepis semua ini.

Kadang mulai kuat, kadang kembali melemah. Aku tak mampu, ya benar. Tapi aku tak pernah ingin tak mampu.
Semua ini begitu ajaib, bagai sulapan mengerikan. Keindahan yang baru saja ternikmati, kini hilang oleh senja.


Jika keputusan ini salah, aku akan berusaha untuk membenarkannya, dengan sekuat ketegasan ini.
Berjanjilah wahai kaum pembela jiwa, bahwa ini adalah derita terakhir untuk mengukur kedalaman lubuk. Tidak akan pernah ada derita yang melebihi sakit ini.

Serasa ingin bertanya, serasa ingin berdiskusi. Kau harus menjawabnya. Ada apa dengan semua ini? Jika kau menganggapku saudara, untuk apa kau tanam dalam-dalam benih kebodohan ini. Yang kau sirami dengan manisnya di awal, dan kau menginjaknya dengan kaki ketidaktegasanmu pada akhirnya. Kau menjadikannya sebagai tanah yang kosong, jauh lebih kosong ketika kau mencabut akar-akarnya dengan kekuatanmu.

Aku tak ingin menanam apapun pada tanah itu. Seribu benih berjatuhan tanpa bertumbuh. Benihmu membusuk dalam ragaku dan segera lekas terbuang. AS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar